INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi di Kalteng pada Mei 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Yuliansah Andrias, mengatakan kondisi tahun ini berbeda dari pola biasanya. Setelah Idulfitri, harga umumnya mengalami penurunan, namun kali ini justru terjadi kenaikan.
“Kalau melihat pola historis, seharusnya Mei itu deflasi. Tapi tahun ini berbeda karena ada kenaikan BBM yang ikut memengaruhi harga pangan,” ujarnya saat rapat pengendalian inflasi di Kantor Gubernur Kalteng, belum lama ini.
Ia menilai, kenaikan harga BBM berdampak pada biaya distribusi sehingga memicu kenaikan harga sejumlah komoditas strategis seperti beras dan ikan.
Selain faktor BBM, BI juga mengingatkan adanya ancaman lain yang bisa memicu inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Mulai dari ketidakpastian geopolitik global, potensi El Nino, tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah, hingga meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur sekolah.
“Kita harus mengantisipasi tekanan inflasi berikutnya karena ada beberapa faktor eksternal yang perlu diwaspadai,” katanya.
Untuk jangka pendek, BI mendorong pemerintah daerah memperbanyak pasar murah dan memperkuat distribusi barang agar harga tetap stabil.
Sementara untuk jangka panjang, BI menyebut Kalteng perlu memperkuat produksi pangan lokal agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Berdasarkan data BPS, inflasi bulanan Kalteng pada Mei 2026 mencapai 0,34 persen, sedangkan inflasi tahunan menyentuh angka 4,56 persen. Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Kalteng, yakni sebesar 0,70 persen.
Editor: Andrian