INTIMNEWS.COM, SAMPIT – Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan pengrajin mandau tradisional kini semakin sulit ditemukan. Generasi muda yang mampu mewarisi keterampilan tersebut pun kian sedikit.
Padahal, mandau bukan sekadar senjata tradisional khas Dayak, melainkan simbol budaya, kehormatan, dan identitas masyarakat Kalimantan yang diwariskan turun-temurun.
Di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, M. Saini (69) masih bertahan menjaga warisan budaya itu.
Pria yang dikenal sebagai pengrajin mandau dan pandai besi atau “menitik” tersebut tetap setia membuat mandau secara tradisional di usianya yang tidak lagi muda.
Dari tangan lelaki kelahiran 1957 itu, lahirlah berbagai mandau dengan ukiran khas Dayak yang memiliki nilai seni tinggi.
Setiap mandau dibuat melalui proses panjang, mulai dari pembentukan bilah, pembuatan gagang, sarung atau kumpang, hingga tahap akhir pelapisan pernis agar terlihat indah dan tahan lama.
Keunikan mandau khas Dayak sendiri terletak pada ukiran di bagian gagang dan sarungnya. Semakin rumit ukiran yang dibuat, biasanya semakin tinggi pula nilai seni dan status sosial pemiliknya.
Untuk bahan gagang dan sarung, Saini menggunakan bahan alami seperti tanduk serta kayu pilihan yang dikenal kuat dan memiliki corak khas alami.
Sementara untuk anyaman mandau, ia menggunakan rotan yang dirangkai secara manual sehingga menambah kesan tradisional dan artistik pada setiap karya yang dibuatnya.
Meski dahulu mandau sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, Saini menegaskan karya yang dibuatnya murni sebagai bentuk pelestarian budaya dan seni tradisional Dayak.
“Namun mandau yang saya buat ini murni karya seni budaya Dayak, dan tidak ada unsur magisnya,” katanya, Minggu, 7 Juni 2026.
Selain mandau, Saini juga menerima berbagai pesanan tempaan lain seperti parang, pisau, lading, kapak, arit, eggrek, dudus, hingga berbagai alat tajam tradisional lainnya yang masih digunakan masyarakat.
Harga mandau buatannya pun bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan ukiran, ukuran, serta bahan yang digunakan.
Di balik usahanya yang sederhana, Saini menyimpan kekhawatiran akan hilangnya budaya membuat mandau di masa depan. Minimnya minat generasi muda membuat jumlah pengrajin tradisional semakin berkurang dari tahun ke tahun.
“Sekarang sudah jarang anak muda yang mau belajar. Padahal ini budaya kita sendiri,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para pengrajin tradisional daerah, baik melalui promosi budaya, pelibatan dalam pameran, maupun bantuan pengembangan usaha agar kerajinan khas Dayak tetap dikenal luas.
“Harapan saya budaya ini jangan sampai hilang. Mudah-mudahan ada anak muda yang mau belajar, dan pemerintah juga bisa membantu memperkenalkan karya-karya budaya daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, dukungan masyarakat untuk membeli dan memperkenalkan karya pengrajin lokal juga menjadi bagian penting dalam menjaga budaya agar tetap hidup.
Bagi masyarakat yang ingin memesan mandau maupun hasil kerajinan lainnya, dapat menghubungi M. Saini melalui nomor 0857-5415-7941.
Selain mendapatkan hasil karya seni tradisional khas Dayak, langkah tersebut juga menjadi bentuk dukungan nyata untuk membantu para pengrajin lokal tetap bertahan dan menjaga warisan budaya Kalimantan Tengah khususnya agar tidak hilang ditelan zaman.
Editor: Andrian