website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Musim Durian di Kalteng, Masyarakat Dayak Lestarikan Warisan Kuliner Tempuyak hingga Sumpat

Efendi Buhing, Warga Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, saat membuat olahan makanan dari Durian. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Musim durian di Kalimantan Tengah (Kalteng) tak hanya identik dengan menikmati buah yang matang dari pohonnya. Bagi masyarakat adat Dayak, musim ini juga menjadi waktu untuk mengolah durian menjadi berbagai makanan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Beragam olahan tersebut bukan sekadar kuliner, tetapi juga menjadi cara masyarakat adat memanfaatkan hasil alam agar durian dapat dinikmati meski musim telah usai. Beberapa di antaranya adalah tempuyak, lampuk, hingga sumpat yang masih dibuat dengan cara tradisional.

Warga Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, Efendi Buhing, mengatakan masyarakat adat Dayak sejak dahulu memiliki berbagai cara mengolah durian. Pengetahuan tersebut diwariskan dari leluhur dan masih dipraktikkan hingga kini.

“Durian tidak hanya dimakan langsung. Ada yang difermentasi menjadi tempuyak, ada yang dibuat lampuk atau dodol durian, kemudian ada sumpat yang dimasak di dalam bambu. Semua itu adalah makanan tradisional masyarakat adat,” kata Efendi.

Pasang Iklan

Menurut Efendi, tempuyak dibuat dari daging durian yang difermentasi hingga menghasilkan cita rasa asam yang khas. Olahan ini dapat bertahan selama berbulan-bulan dan biasanya dimasak bersama ikan atau dijadikan bumbu masakan.

Selain tempuyak, masyarakat adat juga membuat lampuk, yaitu dodol durian yang dibuat hanya dari daging durian tanpa tambahan gula maupun bahan lainnya. Setelah matang, lampuk dibungkus menggunakan daun dan rotan muda, kemudian disalai atau diasapi agar lebih awet.

Efendi menambahkan, ada pula sumpat, yakni olahan durian yang dimasukkan ke dalam bambu lalu dipanggang di atas bara api.

“Proses memasak menghasilkan aroma bambu yang khas dan cita rasa yang berbeda dibandingkan durian segar,” ungkapnya.

Sementara itu, warga Kotawaringin Barat, Budi, mengatakan olahan durian tradisional masih menjadi makanan favorit masyarakat saat musim panen tiba. Menurutnya, setiap olahan memiliki cita rasa yang unik dan tidak mudah ditemukan di daerah lain.

“Tempuyak paling enak dimasak dengan ikan, sedangkan sumpat punya aroma bambu yang khas. Makanan seperti ini harus tetap dijaga karena merupakan warisan budaya masyarakat Dayak,” ujar Budi, Kamis (2/7).

Pasang Iklan

Keberadaan tempuyak, lampuk, sumpat, dan berbagai olahan durian lainnya menjadi bukti kekayaan kuliner masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah.

Selain memiliki cita rasa khas, makanan tradisional tersebut juga mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah hasil alam sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Penulis: Yusro

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!