Oleh: Nikmatul Lailah
Guru Bahasa Inggris SMPN 3 Jangkang &
Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang
INTIMNEWS.COM – Bahasa seringkali dipahami sebagai kumpulan kata dan aturan tata bahasa. Padahal, lebih kompleks dari semua itu. Yang sesungguhnya bekerja adalah makna yang lahir dari konteks, relasi sosial, sejarah, budaya, dan tujuan komunikasi. Dengan kata lain, manusia tidak sekadar berbicara menggunakan kata-kata, namun membangun realitas melalui bahasa.
Inilah mengapa sebuah kata tidak pernah memiliki makna yang benar-benar tetap. Makna selalu dinegosiasikan dalam penggunaan. Kata “anjing”, misalnya, secara leksikal hanyalah nama seekor hewan. Tidak ada unsur penghinaan yang melekat pada kata tersebut. Namun, ketika diucapkan dengan tujuan merendahkan seseorang, disertai intonasi, emosi, dan konteks tertentu, kata yang sama berubah menjadi penghinaan. Sebaliknya, dalam komunitas pecinta hewan, dunia kedokteran hewan, atau percakapan sehari-hari tentang peliharaan, kata itu kembali menjadi istilah yang sepenuhnya netral.
Fenomena yang sama terlihat pada kata “gendut”. Secara denotatif, kata tersebut merujuk pada kondisi fisik tertentu. Namun dalam masyarakat yang menjadikan tubuh langsing sebagai standar kecantikan dan penerimaan sosial, kata itu sering menjadi instrumen body shaming.
Di sisi lain, dalam lingkungan keluarga tertentu, panggilan seperti “Si Gendut” justru dapat menjadi sapaan penuh kasih yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk melukai. Makna kata tersebut tidak berubah karena kamus, melainkan karena discourse yang melingkupinya.
Begitu pula dengan kata “babi” atau “bodoh”. Sebagai kosakata, keduanya memiliki referensi yang jelas. Kata pertama merujuk pada seekor hewan, sedangkan yang kedua menggambarkan keterbatasan pengetahuan atau kemampuan memahami sesuatu. Akan tetapi, dalam praktik sosial, kedua kata tersebut sering dipakai untuk mendelegitimasi, merendahkan, atau bahkan menghilangkan martabat seseorang. Yang menyakiti bukan sekadar bunyi katanya, melainkan posisi sosial, niat penutur, hubungan antarpenutur, serta ideologi yang bekerja di balik penggunaannya.
Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa tidak pernah netral. Setiap ujaran selalu membawa nilai, kepentingan, identitas, dan relasi kuasa. Ketika seseorang berbicara, ia bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga sedang membentuk cara orang lain memahami dunia. Sebuah kata dapat mengangkat martabat, tetapi kata yang sama juga dapat menjadi alat eksklusi, stereotip, diskriminasi, bahkan kekerasan simbolik.
Oleh karena itu, pembahasan discourse melampaui pertanyaan “Apa arti kata ini?” menuju pertanyaan yang jauh lebih kritis. Siapa yang mengucapkannya? Kepada siapa? Dalam situasi apa? Untuk tujuan apa? Nilai apa yang sedang direproduksi? Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan oleh cara bahasa itu digunakan? Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan bahwa bahasa lebih dari sekedar kosakata atau tata bahasa.
Pada akhirnya, kita memahami bahwa makna tidak tinggal di dalam kata-kata. Makna hidup di dalam manusia, masyarakat, dan relasi sosial. Kata hanyalah kendaraan; maknalah yang menentukan kemana bahasa membawa kita, menuju penghormatan atau penghinaan, inklusi atau eksklusi, dialog atau dominasi. (AFS)