Oleh: Ridwan Ismail
Kader Komisariat Syariah UIN Palangka Raya
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah panjang. HMI lahir sebagai ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, membangun gagasan, dan mengambil peran dalam persoalan masyarakat. Karena itu, ketika aktivitas organisasi mulai sepi, program kerja tidak banyak terlihat, ruang diskusi semakin berkurang, dan suara HMI di tengah persoalan masyarakat semakin jarang terdengar, tentu ada pertanyaan yang perlu kita ajukan bersama: ke mana arah HMI Cabang Palangka Raya hari ini?
Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyerang pribadi atau kelompok tertentu. Ini adalah kegelisahan seorang kader yang masih memiliki harapan terhadap HMI. Justru karena masih peduli terhadap organisasi, kritik perlu disampaikan. HMI tidak boleh hanya hidup dari cerita tentang kejayaan masa lalu, tetapi harus mampu menunjukkan kerja nyata pada hari ini.
HMI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Diskusi, kajian, membaca, menulis, dan membicarakan persoalan masyarakat seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kader. Tradisi tersebut tidak boleh berhenti sebagai kenangan. HMI harus mampu membaca persoalan yang ada di sekitarnya dan memberikan respons terhadap keadaan yang sedang terjadi.
Palangka Raya dan Kalimantan Tengah memiliki banyak persoalan yang bisa menjadi perhatian mahasiswa. Persoalan pendidikan, lingkungan, ekonomi masyarakat, kebijakan pemerintah, hingga berbagai masalah sosial yang saat ini dirasakan seperti kendala PLN dan BBM harusnya dapat menjadi bahan diskusi dan kajian kader.
Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana HMI Cabang Palangka Raya hadir dalam persoalan-persoalan itu?
Ketika suara organisasi semakin jarang terdengar di ruang publik dan aktivitas internal juga tidak terlihat berjalan secara maksimal, kader tentu memiliki hak untuk bertanya. Jangan sampai HMI lebih sibuk dengan persoalan internal sementara persoalan masyarakat di luar organisasi justru semakin banyak.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah program kerja kepengurusan. Setiap kepengurusan tentu lahir dengan gagasan dan janji perbaikan. Ketika seseorang mendapatkan amanah untuk memimpin organisasi, maka ada tanggung jawab yang harus dijalankan.
Program kerja tidak harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak. Diskusi rutin, kajian isu daerah, pelatihan menulis, penelitian sederhana, kegiatan sosial, dan penguatan komisariat juga merupakan bentuk kerja yang bisa dilakukan.
Yang paling penting adalah program tersebut benar-benar berjalan dan memberikan manfaat bagi kader. Karena itu, menurut saya, kader wajar jika bertanya tentang apa saja yang sudah dikerjakan oleh kepengurusan, apa hasilnya, dan apa yang sudah dirasakan oleh komisariat maupun kader.
Pertanyaan seperti itu tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk permusuhan. Dalam organisasi mahasiswa, kritik dan evaluasi merupakan bagian dari proses belajar.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah mendapatkan kritik. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerima kritik, memberikan jawaban, dan memperbaiki kekurangannya. Pengurus tidak seharusnya takut terhadap kritik, sementara kader juga tidak seharusnya takut menyampaikan kegelisahan.
Persoalan berikutnya adalah hubungan antara cabang dan komisariat. Komisariat merupakan ruang penting bagi kader untuk tumbuh. Di komisariat, kader belajar berorganisasi, berdiskusi, memahami nilai-nilai HMI, dan membangun kemampuan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Karena itu, komisariat membutuhkan dukungan dari cabang, bukan hanya dalam bentuk agenda formal, tetapi juga melalui pembinaan, ruang belajar, pendampingan, dan komunikasi yang baik.
Kita perlu bertanya dengan sederhana, apa bentuk khidmat HMI Cabang Palangka Raya kepada komisariat dan kader?
Ketika seorang mahasiswa bergabung dengan HMI, tentu ada harapan untuk mendapatkan ruang belajar dan berkembang. Jika setelah masuk organisasi kader justru merasa tidak mendapatkan pembinaan yang cukup, maka kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi.
Jangan sampai kader hanya dibutuhkan ketika organisasi membutuhkan peserta atau ketika ada agenda acara tertentu. Setelah itu, kader dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah pembinaan yang jelas. HMI harus menjadi ruang yang membuat kader merasa tumbuh, bukan justru merasa ditinggalkan.
Selain persoalan pembinaan, HMI Cabang Palangka Raya juga perlu kembali memperkuat keberadaannya di tengah masyarakat. Menjadi organisasi mahasiswa tidak berarti harus selalu melakukan demonstrasi untuk menunjukkan keberadaan. Gerakan mahasiswa bisa dilakukan melalui kajian, penelitian, diskusi, tulisan, advokasi, maupun kegiatan sosial. Yang terpenting adalah HMI memiliki perhatian terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Gerakan dapat dimulai dari hal sederhana. Kader membaca persoalan, mencari data, berdiskusi, melakukan kajian, kemudian menyampaikan pandangan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
Dengan cara itu, HMI tidak hanya menjadi organisasi yang sibuk membicarakan persoalan internal, tetapi juga mampu memberikan gagasan terhadap persoalan masyarakat.
Kita tentu tidak ingin HMI Cabang Palangka Raya kehilangan keberanian untuk bersuara. Ketika ada persoalan penting di daerah, mahasiswa seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan. HMI sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah panjang seharusnya mampu mengambil bagian dalam proses tersebut.
Kritik terhadap kondisi organisasi juga tidak boleh dipahami sebagai bentuk kebencian terhadap HMI. Justru sebaliknya, kritik merupakan salah satu bentuk kepedulian. Jika kader melihat ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik, maka menyampaikan kritik merupakan hal yang wajar selama dilakukan secara bertanggung jawab.
Pengurus memiliki amanah untuk menjalankan organisasi, sementara kader memiliki hak untuk melakukan pengawasan dan memberikan masukan. Keduanya tidak harus ditempatkan sebagai pihak yang saling berhadapan. Kritik seharusnya menjadi cara untuk memperbaiki organisasi, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
Karena itu, saya melihat perlu adanya evaluasi terhadap perjalanan kepengurusan HMI Cabang Palangka Raya. Program kerja perlu dilihat kembali, komunikasi dengan komisariat perlu diperkuat, proses perkaderan harus menjadi perhatian, dan ruang diskusi perlu kembali dihidupkan. HMI juga perlu kembali hadir dalam persoalan masyarakat Palangkaraya dan Kalimantan Tengah.
Jika ada program yang belum berjalan, maka perlu dijelaskan apa kendalanya. Jika ada kekurangan, maka harus diperbaiki. Jika ada kritik, maka sebaiknya dijawab dengan kerja. Kader pada akhirnya tidak hanya membutuhkan penjelasan, tetapi juga membutuhkan bukti bahwa organisasi benar-benar bergerak.
Menurut saya, persoalan HMI hari ini bukan tentang siapa yang menjadi ketua atau siapa yang mendapatkan jabatan dalam kepengurusan. Persoalan yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah seseorang mendapatkan amanah tersebut. Jabatan dalam organisasi seharusnya menjadi tanggung jawab, bukan tujuan akhir.
HMI tidak membutuhkan banyak jabatan tanpa kerja nyata. HMI membutuhkan kader yang mau belajar, berpikir, berdiskusi, bekerja, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Karena itu, kritik ini saya sampaikan bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi sebagai bentuk kegelisahan terhadap kondisi organisasi yang seharusnya dapat bergerak lebih jauh.
Saya berharap HMI Cabang Palangka Raya dapat kembali menghidupkan ruang diskusi, memperkuat perkaderan, memperbanyak kajian dan tulisan, serta kembali membaca persoalan yang terjadi di daerah. HMI juga perlu membangun budaya organisasi yang terbuka terhadap kritik agar kader tidak merasa kehilangan ruang untuk menyampaikan pendapat.
HMI tidak boleh hanya sibuk mengingat kejayaan masa lalu, tetapi lupa membangun kerja untuk masa depan. Menagih khidmat bukan berarti membenci HMI. Mengkritik pengurus bukan berarti memusuhi organisasi. Justru karena masih peduli terhadap HMI, kritik harus berani disampaikan.
Pada akhirnya, HMI bukan tempat untuk sekadar menumpuk jabatan. HMI adalah ruang untuk belajar, berjuang, dan memberikan manfaat.
Jika perkaderan mulai sepi, diskusi mulai mati, dan suara organisasi semakin jarang terdengar, maka sudah saatnya kita bertanya kembali, untuk apa HMI ada jika tidak lagi hadir untuk kader dan masyarakat?
Yakin Usaha Sampai!
Red