website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Karhutla Makin Mengkhawatirkan, HMI Teknik UPR Desak Perlindungan Gambut Diperkuat

Wasekbid PTKP HMI Komisariat Teknik UPR, Ahmad Rifai Hasibuan. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan Tengah. Dampaknya tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan warga, aktivitas pendidikan, sosial, hingga perekonomian jika kabut asap meluas.

Wakil Sekretaris Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (Wasekbid PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Teknik UPR, Ahmad Rifai Hasibuan mengatakan, penanganan karhutla perlu lebih banyak diarahkan pada pencegahan, bukan hanya pemadaman setelah api muncul.

Ia mendorong pemerintah memperkuat pemantauan di kawasan rawan kebakaran, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, serta mendorong pengelolaan lahan yang lebih bertanggung jawab.

“Karhutla bukan hanya persoalan ketika api muncul, tetapi bagaimana kita mencegah agar api tidak muncul dan bagaimana menjaga lingkungan agar tetap mampu bertahan menghadapi ancaman kebakaran,” ujarnya, Jumat, 4 September 2026.

Pasang Iklan

Perlindungan lahan gambut juga menjadi perhatian. Karakter gambut yang mudah terbakar ketika kering membuat pengelolaan tata air dan perlindungan kawasan tersebut perlu masuk dalam strategi pencegahan karhutla.

Selain kerusakan lingkungan, Ahmad juga menyoroti dampak kabut asap terhadap masyarakat. Penurunan kualitas udara, kata dia, dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan pada akhirnya menyentuh hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat sistem deteksi dini serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Pada saat yang sama, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.

Mahasiswa dan organisasi kepemudaan, lanjut Ahmad, juga dapat mengambil peran melalui kajian, edukasi, advokasi, dan pengawasan terhadap persoalan lingkungan. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar penanganan karhutla tidak berhenti pada respons saat bencana terjadi.

Ahmad menegaskan, karhutla membutuhkan gerakan bersama dan konsisten. Pemerintah, masyarakat, akademisi, serta organisasi kepemudaan memiliki peran masing-masing dalam mencegah kebakaran dan menjaga lingkungan.

“Kita tidak boleh membiasakan diri hidup dengan kabut asap. Pencegahan harus menjadi gerakan bersama, karena yang dipertaruhkan bukan hanya hutan dan lahan, tetapi kesehatan masyarakat dan masa depan Kalimantan Tengah,” tegasnya.

Pasang Iklan

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Pasang Iklan Ikuti Saluran
error: Content is protected !!