INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kini masuk tiga besar daerah dengan inflasi tertinggi di Indonesia. Kondisi itu membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng mulai memperkuat langkah pengendalian harga pangan dan distribusi barang di seluruh daerah.
Hal tersebut menjadi perhatian utama dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah dan Stabilisasi Pasokan serta Harga Pangan yang digelar di Kantor Gubernur Kalteng, belum lama ini.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kalteng, Linae Victoria Aden, mengatakan posisi Kalteng masuk dalam daftar inflasi tertinggi dan harus menjadi perhatian serius seluruh pemerintah daerah dan instansi terkait.
“Berdasarkan data terbaru, Kalimantan Tengah saat ini berada di peringkat ketiga inflasi tertinggi di Indonesia. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujarnya.
Menurut Linae, tingginya inflasi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama untuk kebutuhan pokok sehari-hari.
Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota ikut bergerak melakukan langkah pengendalian agar kenaikan harga tidak semakin meluas.
“Kalau hanya provinsi yang bergerak tentu tidak cukup. Semua daerah harus ikut mengambil langkah sesuai tugas dan kewenangannya,” katanya.
Dalam rapat tersebut, beras disebut menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi di Kalteng. Pemprov juga sudah berkoordinasi dengan Bulog terkait ketersediaan stok pangan.
Linae memastikan stok beras di Kalteng masih aman, bahkan disebut melebihi kebutuhan. Meski begitu, distribusi dan pengawasan di lapangan tetap diminta diperkuat.
Selain pangan, kenaikan harga BBM non-subsidi juga dinilai ikut memicu inflasi di daerah. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Yuliansah Andrias, mengatakan kondisi inflasi tahun ini berbeda dari pola biasanya setelah Idulfitri.
“Biasanya setelah Lebaran terjadi penurunan harga atau deflasi. Tapi tahun ini berbeda karena ada kenaikan harga BBM yang memengaruhi biaya distribusi dan harga pangan,” jelasnya.
Bank Indonesia juga mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan, mulai dari ketidakpastian global, dampak El Nino, hingga tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Sebelumnya, BPS Kalteng mencatat inflasi Mei 2026 mencapai 0,34 persen secara bulanan dan 4,56 persen secara tahunan. Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Kalteng, yakni sebesar 0,70 persen.
Editor: Andrian