INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama para nelayan yang bergantung pada Solar untuk melaut.
Kondisi ini mendapat perhatian dari Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Kalteng), Siti Nafsiah.
Ia menyoroti sulitnya nelayan mendapatkan Solar di tengah kenaikan harga BBM non subsidi yang juga terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, harga Pertamina Dex sempat berada di kisaran Rp26 ribu hingga Rp28 ribu per liter.
Menurutnya, situasi tersebut membuat banyak nelayan kesulitan menjalankan aktivitas mencari ikan karena biaya operasional ikut meningkat.
“Kelangkaan Solar ini tentu sangat dirasakan nelayan. Mereka sangat bergantung pada BBM untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui di Gedung Komisi DPRD Kalteng, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia mengatakan, dampak kelangkaan BBM tidak merata di setiap wilayah. Di daerah yang didominasi aktivitas pertambangan, kondisi itu dinilai tidak terlalu memengaruhi operasional masyarakat setempat.
“Bagi kelompok masyarakat pertambangan mungkin tidak terlalu menjadi persoalan utama karena masih sebanding dengan penghasilan mereka,” katanya.
Meski begitu, ia menilai kenaikan harga BBM tetap memberi efek luas terhadap masyarakat umum, terutama pada sektor kebutuhan pokok.
Siti menambahkan, biaya distribusi barang dari kota menuju daerah ikut meningkat karena ongkos transportasi yang lebih mahal. Kondisi itu kemudian berdampak pada kenaikan harga bahan kebutuhan sehari-hari di pasaran.
“Imbasnya pasti terasa ke masyarakat. Harga kebutuhan pokok ikut naik karena biaya angkut barang juga meningkat,” jelasnya.
Ia berharap persoalan distribusi dan ketersediaan BBM di Kalteng bisa segera ditangani agar tidak semakin membebani masyarakat kecil, khususnya nelayan dan warga di daerah pelosok.
Editor: Andrian