INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50 persen memunculkan berbagai respons dari pelaku usaha dan pasar keuangan. Di tengah ekspektasi suku bunga akan tetap bertahan, keputusan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa BI sedang mengantisipasi tekanan ekonomi yang lebih besar.
Ekonom Kalimantan Tengah (Kalteng), Rio Kriswana, menilai kebijakan itu merupakan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi dunia saat ini masih dibayangi konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat. Situasi tersebut membuat investor cenderung memindahkan modal ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Tekanan global ini berdampak pada nilai tukar, arus modal, dan stabilitas pasar keuangan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena itu BI memilih menggunakan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas,” kata Rio, Rabu, 10 Juni 2026.
Kenaikan BI Rate, lanjutnya, bertujuan menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Suku bunga yang lebih tinggi juga membuat instrumen seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik bagi investor.
Meski demikian, Rio menilai kebijakan tersebut bukan solusi jangka panjang. Kenaikan suku bunga lebih tepat dipandang sebagai langkah stabilisasi untuk meredam gejolak ekonomi yang berasal dari luar negeri.
Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi relatif stabil, inflasi masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, ketergantungan terhadap arus modal global masih menjadi tantangan. Sentimen investor internasional dan pergerakan dana asing dinilai masih sangat memengaruhi kondisi pasar keuangan dalam negeri.
Rio juga mengingatkan bahwa kenaikan BI Rate biasanya memberikan tekanan terhadap pasar saham dalam jangka pendek. Ketika bunga meningkat, biaya pinjaman perusahaan ikut naik dan investor memiliki pilihan investasi lain yang dianggap lebih aman.
“Pasar saham bergerak berdasarkan ekspektasi, sedangkan ekonomi riil bergerak berdasarkan produktivitas. Karena itu penurunan indeks saham tidak selalu berarti kondisi ekonomi sedang memburuk,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya menarik investasi produktif dibandingkan sekadar modal jangka pendek atau hot money. Investasi yang masuk ke sektor industri, teknologi, dan hilirisasi dinilai akan memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Rio menambahkan, faktor kepercayaan menjadi hal yang tidak kalah penting dibanding angka-angka ekonomi. Investor membutuhkan kepastian hukum, regulasi yang konsisten, serta arah pembangunan yang jelas sebelum menanamkan modal dalam jangka panjang.
“Kenaikan BI Rate bisa menjaga stabilitas untuk sementara. Namun yang menentukan daya tahan ekonomi ke depan adalah kepercayaan pasar, kualitas kebijakan, dan kemampuan Indonesia memperkuat fondasi ekonominya sendiri,” pungkasnya.
Editor: Andrian