website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Karhutla Kalteng Terancam Lebih Parah, WALHI Soroti Kerusakan Gambut dan Deforestasi

Direktur Walhi Kalteng, Janang F. Palanungkai. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Tengah (Kalteng) mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng tahun ini berpotensi lebih parah seiring prediksi datangnya fenomena iklim ekstrem yang disebut El Nino “Godzilla”.

Direktur WALHI Kalteng, Janang F. Palanungkai mengatakan, ancaman karhutla kali ini tidak bisa dianggap biasa. Menurut dia, risiko kebakaran meningkat karena kondisi lingkungan di Kalteng makin rentan akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan rusaknya ekosistem gambut.

“Ancaman karhutla tahun ini patut diwaspadai serius. Kondisi lingkungan kita jauh lebih rentan karena hutan terus berkurang, gambut rusak, dan cuaca ekstrem makin memperparah situasi,” kata Janang, Sabtu, 2 Mei 2026.

Ia menilai daya rusak karhutla tahun ini bisa lebih tinggi dibanding bencana besar 2015. Jika saat itu skala kerusakan diperkirakan berada di angka 70 persen, tahun ini potensi dampaknya disebut bisa menembus 90 persen.

Pasang Iklan

“Kalau 2015 kita bicara kerusakan di kisaran 70 persen, sekarang bisa jauh lebih besar. Potensinya naik karena kondisi lahannya sudah jauh lebih rapuh,” ujarnya.

Menurut Janang, kerentanan itu dipicu menurunnya daya dukung lingkungan, terutama di kawasan gambut yang kini makin kering. Ia menyoroti pembukaan lahan gambut yang terus berlangsung, termasuk untuk proyek skala besar seperti food estate dan cetak sawah.

“Gambut seharusnya jadi penyangga air. Tapi ketika hutan dibuka dan lahannya dikeringkan, kawasan itu justru jadi sangat mudah terbakar,” jelasnya.

WALHI mencatat sedikitnya enam wilayah paling rawan karhutla di Kalteng, yakni Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, dan Kota Palangka Raya. Meski begitu, ancaman kebakaran juga mulai meluas ke daerah bertanah mineral seperti Barito Timur dan Barito Utara akibat suhu panas ekstrem.

Janang menyebut suhu di sejumlah wilayah Kalteng sudah berada di kisaran 34 hingga 35 derajat celsius. Kondisi itu dinilai cukup berbahaya karena mempercepat pengeringan lahan dan memicu titik api lebih cepat muncul.

Selain faktor cuaca, WALHI juga menyoroti peran korporasi yang dinilai masih menjadi penyumbang terbesar karhutla dari sisi luasan lahan terbakar. Menurut Janang, penanganan hukum selama ini masih lebih sering menyasar masyarakat kecil, sementara perusahaan besar kerap luput dari pengawasan.

Pasang Iklan

“Kalau dilihat dari luas kebakaran, satu konsesi perusahaan bisa jauh lebih besar dibanding lahan milik puluhan warga. Ini yang harus dilihat serius,” tegasnya.

WALHI meminta pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi mulai membenahi akar persoalan. Salah satunya dengan mengevaluasi izin perusahaan dan proyek besar yang dinilai merusak kawasan gambut.

“Mitigasi tidak cukup hanya siapkan alat dan personel. Pemerintah harus berani evaluasi izin, hentikan perusakan gambut, dan cabut izin yang terbukti merusak. Itu langkah pencegahan yang paling mendasar,” tutupnya.

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran