INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), H. Agustiar Sabran, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi infrastruktur jalan di sejumlah daerah di wilayahnya yang mengalami kerusakan parah akibat kendaraan bermuatan berlebih.
Hal ini disampaikan Gubernur saat menghadiri kegiatan pasar murah di Desa Asam Baru, Kabupaten Seruyan, Senin, 9 Juni 2025. Menurutnya, banyak jalan di Kalteng dirancang hanya untuk beban maksimal 8 ton, namun kerap dilalui kendaraan dengan beban mencapai 20 hingga 30 ton.
“Idealnya, pembangunan jalan cukup satu kali untuk jangka panjang dan hanya memerlukan perawatan rutin. Tapi kenyataannya, kita harus membangun jalan hampir setiap tahun karena cepat rusak,” kata Agustiar.
Kondisi tersebut, lanjutnya, mengakibatkan pemborosan anggaran daerah. Seharusnya dana pembangunan jalan dapat dialihkan ke sektor lain yang juga mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, serta bantuan sosial dan keagamaan.
“Kalau kita tidak terus-menerus menghabiskan anggaran untuk jalan yang rusak akibat kelebihan muatan, maka bisa kita gunakan untuk memperbaiki sekolah, fasilitas kesehatan, atau bantu rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan tempat ibadah Kaharingan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa arah pembangunan di Kalteng ke depan tidak hanya akan berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada aspek peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Menurut Gubernur, pembangunan tidak melulu soal beton dan aspal. Perlu ada keseimbangan dengan pembangunan manusia yang mencakup pendidikan, kesehatan, sosial budaya, dan keagamaan.
“Kita ingin pembangunan di Kalteng menyentuh semua lini kehidupan masyarakat, termasuk spiritual dan kesejahteraan sosialnya,” katanya lagi.
Agustiar meminta agar kendaraan angkutan barang besar dapat mematuhi ketentuan tonase jalan yang berlaku. Ia juga mendorong pihak berwenang untuk lebih aktif melakukan pengawasan di titik-titik rawan pelanggaran.
Dengan pembenahan kebijakan dan pengawasan yang konsisten, ia berharap pembangunan jalan di masa depan dapat lebih efisien dan berkelanjutan. “Kita harus putus siklus pemborosan ini,” tegasnya.