website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Doktor UI Ungkap Paparan Merkuri Tingkatkan Risiko Gizi Buruk pada Balita di Gunung Mas

Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Budi Rachmat. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Paparan merkuri di kawasan pertambangan emas skala kecil diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi status gizi balita di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Temuan itu disampaikan Nurhalina dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi S3 Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Jumat, 26 Juni 2026.

Melalui disertasi berjudul Dampak Pajanan Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Daerah Pertambangan Emas Skala Kecil Kabupaten Gunung Mas, Nurhalina berhasil meraih gelar doktor setelah memaparkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji.

Dalam pemaparannya, Nurhalina mengatakan status gizi anak masih menjadi tantangan besar, terutama di negara berkembang. Meski angka stunting dan gizi buruk terus menurun, pencapaiannya dinilai belum mampu memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2030.

Pasang Iklan

“Selama ini pencegahan masalah gizi masih berfokus pada intervensi gizi, namun belum memperhatikan keterlibatan pajanan logam berat seperti merkuri karena penelitian terkait masih sangat terbatas,” ujarnya.

Penelitian dilakukan menggunakan metode cross-sectional terhadap 146 balita yang tinggal di kawasan pertambangan emas skala kecil di Kabupaten Gunung Mas. Hasil penelitian menunjukkan balita terpapar merkuri melalui konsumsi ikan yang telah terkontaminasi.

Nurhalina menjelaskan, kadar merkuri pada rambut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kondisi gizi balita. Anak dengan kadar merkuri rambut mencapai atau melebihi 0,163 mg/kg memiliki risiko 19,4 kali lebih besar mengalami gizi kurang atau gizi buruk, 8,4 kali lebih berisiko mengalami stunting, serta 18,8 kali lebih berisiko mengalami underweight.

Menurutnya, merkuri dapat mengganggu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh, mulai dari metabolisme karbohidrat, sintesis protein, aktivitas antioksidan, hingga penyerapan vitamin dan mineral yang berperan penting dalam pertumbuhan anak.

“Dampaknya, merkuri menginaktivasi enzim untuk metabolisme karbohidrat, menghambat sintesis protein, menghambat aktivitas antioksidan, meningkatkan peroksidasi lipid, serta mengganggu penyerapan vitamin dan mineral,” jelasnya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Nurhalina merekomendasikan pemerintah memperkuat upaya pencegahan pencemaran merkuri, meningkatkan pengawasan keamanan pangan, serta melakukan pemantauan rutin terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah pertambangan.

Pasang Iklan

“Kami merekomendasikan integrasi intervensi gizi dan kesehatan lingkungan dalam kerangka kerja nasional untuk pencegahan dan penanganan malnutrisi di Indonesia, khususnya di daerah dengan pajanan merkuri yang tinggi,” pungkasnya.

Sidang promosi doktor dipimpin Helda dengan promotor Tri Yunis Miko Wahyono serta ko-promotor Syahrizal Syarif dan Bambang Wispriyono. Tim penguji terdiri atas Besral, Ririn Arminsih Wulandari, Soewarta Kosen, dan Suwito.

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!