website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

DLH Kalteng Genjot Penarikan Alkes Bermerkuri 2025

Kegiatan pernarikan alkes bermerkuri di DLH Kalteng. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengingatkan kembali bahaya merkuri bagi kesehatan dan lingkungan, menyusul dimulainya program nasional penarikan alat kesehatan (alkes) bermerkuri dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).

Kepala DLH Provinsi Kalteng, Joni Harta, menegaskan bahwa merkuri merupakan zat berbahaya yang dapat menimbulkan gangguan serius pada tubuh manusia, mulai dari kerusakan saraf, ginjal, hingga memengaruhi perkembangan janin pada ibu hamil.

Menurutnya, risiko merkuri tidak hanya terjadi saat penggunaan alkes, tetapi juga jika limbahnya tidak dikelola dengan benar. “Merkuri bukan hanya berbahaya bagi pasien yang menggunakan alkes, tetapi juga bagi tenaga medis, bahkan masyarakat luas jika limbahnya masuk ke lingkungan. Karena itu, penghapusan alkes bermerkuri harus menjadi prioritas bersama,” jelas Joni di Kantor DLH Provinsi Kalteng.

Program penarikan alkes bermerkuri ini menempatkan DLH Kalteng sebagai Depo Storage, yang bertugas menampung alkes bermerkuri hasil penarikan dari kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah.

Pasang Iklan

Alat yang terkumpul nantinya akan dikelola sesuai standar pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga risiko pencemaran lingkungan dapat diminimalisir.

Selain pengelolaan limbah, Joni mendorong rumah sakit, puskesmas, dan klinik untuk segera beralih ke alkes ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tren modernisasi layanan kesehatan yang aman bagi pasien dan tenaga medis.

“Alkes ramah lingkungan sudah banyak tersedia di pasaran. Dengan beralih ke alat yang lebih aman, tenaga kesehatan dapat melayani masyarakat tanpa harus khawatir terhadap risiko merkuri,” katanya.

Berbagai alternatif alkes yang lebih aman kini mudah diakses, seperti termometer digital dan tensimeter aneroid, yang dapat menggantikan penggunaan alat bermerkuri secara bertahap.

Program nasional ini merupakan bagian dari target Indonesia Bebas Merkuri Tahun 2030, yang menekankan pentingnya pengurangan risiko zat berbahaya dalam pelayanan kesehatan.

DLH Kalteng tidak hanya fokus pada penarikan alkes, tetapi juga aktif melakukan edukasi kepada fasyankes dan masyarakat mengenai bahaya merkuri.

Pasang Iklan

Pendekatan edukasi ini diharapkan mendorong kesadaran bersama agar transisi ke teknologi kesehatan modern dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.

Selain itu, penghapusan alkes bermerkuri diharapkan berdampak pada kualitas lingkungan, mengurangi potensi pencemaran tanah, air, dan rantai makanan yang berisiko bagi masyarakat.

Dengan komitmen semua pihak, Joni optimistis Kalimantan Tengah dapat menjadi wilayah yang lebih sehat dan aman dari ancaman merkuri.

“Kami ingin gerakan ini bukan hanya soal penarikan alkes, tetapi juga perubahan kesadaran. Jika semua pihak berkomitmen, Kalimantan Tengah bisa menjadi daerah yang lebih sehat, bebas dari ancaman merkuri,” pungkasnya.

Editor: Andrian

Pasang Iklan

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran