website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Disdik Katingan Klarifikasi Data Ribuan Anak Tak Sekolah: Mayoritas karena Administrasi

Plt Kepala Dinas Pendidikan Katingan, Arianson, S.Pd,. SD. (Bitro)

INTIMNEWS.COM, KASONGAN – Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan, Arianson, S.Pd,. SD menanggapi data sebanyak 3.900 anak yang tercatat tidak bersekolah. Menurutnya, angka tersebut bukan sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata di lapangan.

Arianson menjelaskan, data itu muncul sebagian besar karena persoalan administrasi dalam pendataan di dapodik (Data Pokok Pendidikan). Banyak orang tua yang tidak melaporkan ketika anak mereka pindah sekolah ke daerah lain, sehingga terkesan anak tersebut tidak melanjutkan sekolah.

“Misalnya ada anak TK atau PAUD yang baru sebentar sekolah, lalu orang tuanya pindah ke Banjarmasin atau ke Gunung Mas. Tapi karena datanya tidak dicabut dari dapodik, sistem mencatat seolah-olah anak itu tidak melanjutkan sekolah,” jelas Arianson kepada beberapa awak media beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, jika ditelusuri lebih dalam, angka anak yang benar-benar putus sekolah jauh lebih kecil dibandingkan data kasar yang tercatat. “Kalau SD yang tidak melanjutkan ke SMP sekitar 300-an anak, sedangkan SMP ke SMA sekitar 260-an anak,” tambahnya.

Pasang Iklan

Selain faktor administrasi, menurut Arianson, ada pula penyebab lain yang membuat anak tidak melanjutkan sekolah. Salah satunya adalah faktor jarak, karena sekolah SMP umumnya hanya ada di tingkat kecamatan, sementara di desa jumlahnya terbatas.

“Jarak sekolah yang jauh tentu jadi kendala, apalagi untuk masyarakat di daerah terpencil. Itu yang sering membuat anak-anak enggan melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai kebiasaan masyarakat di wilayah pedalaman juga turut berpengaruh. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan masih perlu terus ditingkatkan agar anak-anak tidak berhenti di tengah jalan.

Arianson memastikan pihaknya bersama pemerintah daerah akan melakukan pengecekan ulang terhadap data tersebut. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman publik terkait tingginya angka anak yang disebut tidak sekolah di Katingan.

“Data ini akan kami klarifikasi lagi. Jadi masyarakat jangan langsung berasumsi angka 3.900 itu semua putus sekolah. Sebagian besar hanya masalah pencatatan administrasi,” tutupnya.

Editor: Andrian

Pasang Iklan

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran