website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Menaklukkan Papuyu Emas di Pedalaman Katingan

Ikan Papuyu Emas hasil buruan di Sungai Katingan. (Maulana Kawit)

INTIMNEWS.COM, KASONGAN – Pagi baru saja menyentuh tepian sungai di Desa Tewang Kampung, Kabupaten Katingan, ketika suara mesin ces mulai terdengar dari kejauhan.

Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aliran sungai yang tenang perlahan dipenuhi aktivitas warga. Di desa yang kehidupan masyarakatnya masih sangat bergantung pada sungai itu, pagi dimulai dengan cara sederhana, yaitu mandi di lanting.

Bagi masyarakat bantaran sungai di pedalaman Kalimantan, lanting bukan sekadar bangunan terapung, namun juga ruang hidup. Sebagian dijadikan rumah, sebagian lagi menjadi tempat mandi dan WC sederhana.

Lanting dibuat dari susunan batang kayu besar yang mampu menopang bangunan di atas air. Tak ada keramik atau kloset modern. Hanya lantai kayu dengan celah kecil tempat air sungai mengalir di bawahnya. Di situlah warga mandi, mencuci, hingga memulai hari.

Pasang Iklan

Selesai mandi, sarapan sederhana telah tersedia di rumah mertua, ikan kering dan telur. Menu khas kampung yang akrab bagi masyarakat sungai.

Namun pagi itu, bukan sarapan yang paling dinanti. Ada agenda lain yang membuat suasana rumah terasa lebih hidup, yakni berburu ikan betok kuning atau papuyu emas.

Di kalangan masyarakat rawa Kalimantan, papuyu bukan ikan biasa. Ikan yang dikenal tangguh itu hidup di rawa, parit kecil, dan aliran air dangkal yang dipenuhi akar tanaman rawa.

Semangat memancing pagi itu muncul setelah mendengar cerita Siti Zubaidah, istri kepala desa setempat, yang berhasil membawa pulang hampir 10 kilogram papuyu emas hanya dalam sekali memancing. Cerita itu menjadi pemantik semangat kami untuk mencoba peruntungan.

img 20260516 wa0060
Naik kelotok untuk menyusuri Sungai Katingan. (Maulana Kawit)

Sekitar pukul 06.30 WIB, dua kelotok kecil mulai meninggalkan kampung. Kelotok yang kami gunakan panjangnya sekitar enam meter dengan lebar satu setengah meter. Mesin ces di buritan meraung pelan membelah air sungai.

Kelotok pertama diisi enam orang, termasuk saya dan beberapa keluarga. Sementara kelotok kedua diisi dua perempuan yang sudah terbiasa mengendalikan perahu di jalur sungai sempit.

Pasang Iklan

Di pedalaman Katingan, perempuan membawa kelotok bukan pemandangan asing. Sungai adalah akses utama kehidupan, sehingga hampir setiap warga terbiasa mengoperasikan perahu bermesin.

Perjalanan menuju lokasi memancing menjadi pengalaman tersendiri. Kelotok melaju memasuki paritan sawit yang sempit dan berkelok. Di kanan kiri, pohon-pohon besar masih berdiri rapat. Sesekali monyet liar terlihat melompat di antara dahan sambil mencari makan.

Suasana seperti itu menghadirkan pemandangan yang sulit ditemukan di perkotaan.

Semakin jauh masuk, jalur air semakin menyempit. Lebarnya hanya sekitar empat meter. Air rawa yang hitam memantulkan bayangan pepohonan tinggi di atasnya. Sunyi hanya dipecah suara mesin ces dan percikan air dari buritan kelotok.

Bardi, pria paruh baya yang menjadi motoris kelotok kami, tampak tenang mengendalikan perahu. Tangannya begitu akrab dengan setiap tikungan kecil di jalur air itu.

“Kalau tidak hafal jalur, bisa nyangkut di akar,” ujarnya singkat.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kelotok akhirnya berhenti di ujung paritan. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki hampir satu kilometer menuju lokasi memancing di sela blok sawitan.

Rasa lelah perjalanan langsung terbayar ketika kami tiba di lokasi. Di antara akar dan genangan rawa terdapat lubang-lubang besar yang dipercaya menjadi sarang papuyu emas.

Satu per satu kail mulai dilemparkan.

Tak lama menunggu, tali pancing bergerak pelan lalu tenggelam cepat. Tarikan kuat langsung terasa di ujung joran. Seekor papuyu emas berhasil terangkat dari air hitam rawa. Sorak kecil pun terdengar dari rombongan.

Sensasi memancing papuyu memang berbeda. Ikan ini terkenal agresif saat menyambar umpan. Tarikannya kuat dan sering membuat pemancing ketagihan. Hampir di setiap lubang rawa terdapat ikan.

Selain papuyu emas, beberapa kali kail kami juga disambar ikan gabus dan kekakapar. Sesekali pancing tersangkut akar rawa, tetapi hal itu tak mengurangi semangat memancing.

Tanpa terasa, matahari mulai meninggi. Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika kami memutuskan kembali ke kampung. Keranjang dan wadah ikan yang kami bawa perlahan penuh. Masing-masing pemancing membawa pulang sekitar lima kilogram hasil tangkapan.

Di tengah perjalanan pulang itu, saya menyadari satu hal: berburu papuyu emas bukan sekadar tentang mendapatkan ikan.

Lebih dari itu, perjalanan ini menghadirkan cara lain untuk memahami kehidupan masyarakat sungai di pedalaman Katingan.

Tentang bagaimana rawa bukan dianggap tempat liar yang menakutkan, melainkan ruang hidup yang memberi makan, menjaga tradisi, dan menyimpan kenangan bagi masyarakatnya.

Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, kehidupan di tepian sungai itu tetap berjalan dengan caranya sendiri—tenang, sederhana, tetapi penuh makna.

Di pedalaman rawa Katingan, kami bukan hanya pulang membawa ikan. Kami pulang membawa cerita tentang alam yang masih hidup, tentang sungai yang masih dijaga, dan tentang papuyu emas yang tetap bertahan di sunyi pedalaman Kalimantan.

Penulis: Maulana Kawit

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran