INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA — Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menempatkan penguatan kapasitas guru dan peserta didik di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), coding, serta pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sebagai prioritas kebijakan pendidikan pada 2026.
Penegasan itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, dalam lanjutan rapat koordinasi daring bersama pengawas dan kepala SMA, SMK, serta sekolah khusus se-Kalimantan Tengah, Sabtu, 17 Januari 2026.
Reza mengatakan penguasaan teknologi, termasuk AI dan coding, tidak lagi bersifat pilihan. Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi kebutuhan dasar agar sistem pendidikan daerah mampu mengikuti perkembangan global.
“Pendekatan STEM harus diimplementasikan dan memberi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Reza.
Sebagai langkah awal, Dinas Pendidikan mendorong pembentukan research club di setiap satuan pendidikan. Melalui wadah ini, setiap sekolah ditargetkan menghasilkan minimal satu riset atau inovasi setiap tahun yang dikerjakan oleh siswa dengan pendampingan guru.
Ia menegaskan peran guru dalam skema tersebut adalah sebagai pembimbing, bukan pelaku utama riset. “Siswa yang melakukan riset, guru mengarahkan sesuai potensi sekolah,” katanya.
Untuk jenjang SMA, riset diarahkan pada kolaborasi lintas mata pelajaran, seperti biologi, fisika, dan kimia. Adapun sekolah khusus didorong menggali potensi peserta didik sebagai sumber inovasi yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Reza menilai potensi lokal dapat menjadi basis pengembangan riset. Ia mencontohkan komoditas daerah sebagai bahan inovasi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya riset berbasis lingkungan. Menurut dia, pendekatan kontekstual dapat mendorong siswa menghasilkan inovasi sederhana namun aplikatif, seperti pemanfaatan sumber daya alam di sekitar.
Untuk sekolah menengah kejuruan (SMK), pengembangan inovasi diarahkan sesuai kompetensi keahlian, mulai dari teknologi jaringan hingga rekayasa. Pemerintah daerah bahkan mendorong konsep one school one product sebagai standar minimal inovasi.
“Jika setiap sekolah menghasilkan satu produk setiap tahun, potensi inovasi daerah akan sangat besar,” ujarnya.
Dinas Pendidikan juga meminta sekolah aktif mempublikasikan hasil karya siswa melalui platform digital dan media sosial. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas jangkauan dan apresiasi terhadap inovasi peserta didik.
Ke depan, pemerintah provinsi berencana menggelar ajang inovasi secara berkala berbasis zonasi wilayah. Kegiatan ini ditujukan sebagai ruang apresiasi sekaligus pertukaran gagasan antar-siswa dan sekolah.
Selain itu, Disdik Kalteng membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sekolah diharapkan dapat memanfaatkan kerja sama tersebut untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan inovasi.
“Kolaborasi harus memberi manfaat nyata. Tidak tertutup kemungkinan inovasi siswa dapat berkembang hingga tingkat nasional,” kata Reza.
(Redha/Maulana Kawit)