INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Peringatan Hari Bidan Internasional yang diperingati setiap 5 Mei lalu menjadi momentum untuk menyoroti peran penting bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Di Kalimantan Tengah (Kalteng), jumlah tenaga bidan sebenarnya sudah mencukupi, namun persoalan pemerataan distribusi masih menjadi tantangan utama.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, dr Suyuti Syamsul, saat diwawancarai Intimnews pada Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Suyuti, berdasarkan rasio ideal antara jumlah penduduk dan tenaga bidan, Kalteng saat ini bahkan memiliki jumlah bidan yang cukup tinggi. Namun, kondisi itu belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah.
“Berdasarkan rasio ideal jumlah penduduk dengan bidan, rasio di Kalteng sudah sangat tinggi. Masalah utama saat ini justru distribusi yang tidak merata. Bidan sangat menumpuk di kota, tapi di desa masih ada yang belum tercover,” ujar Suyuti.
Ia mencontohkan, fasilitas kesehatan di kawasan perkotaan kini cenderung sangat selektif menerima tenaga bidan baru karena jumlahnya yang sudah banyak. Bahkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangka Raya disebut tidak lagi membuka formasi bidan dalam jumlah besar.
“Doris sendiri tidak lagi membuka formasi bidan dan sangat selektif menerima pindahan, khususnya untuk bidan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan di Kalteng bukan lagi soal kuantitas, melainkan pemerataan penempatan tenaga medis hingga ke wilayah pedalaman dan desa terpencil.
Suyuti menjelaskan, pemenuhan tenaga bidan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas, pustu, dan layanan primer lainnya menjadi kewenangan masing-masing pemerintah kabupaten dan kota.
“Pemenuhan bidan di puskesmas, pustu, dan fasilitas pelayanan primer merupakan kewenangan dinas kesehatan kabupaten/kota,” jelasnya.
Meski demikian, persoalan distribusi tenaga kesehatan di daerah pelosok masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar. Wilayah Kalteng yang luas dengan akses geografis yang tidak mudah membuat sejumlah desa masih mengalami keterbatasan layanan kesehatan, termasuk tenaga bidan.
Padahal, keberadaan bidan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan angka kematian ibu melahirkan dan stunting di daerah.
Di sisi lain, Kalteng memiliki sejumlah institusi pendidikan yang setiap tahun mencetak lulusan bidan dalam jumlah cukup besar. Beberapa di antaranya yakni Poltekkes Kemenkes Palangka Raya (Polkesraya), Akademi Kebidanan Betang Asi Raya (BETARA), serta Akademi Kebidanan Murung Raya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan utama sektor kesehatan di Kalteng saat ini bukan lagi pada minimnya lulusan tenaga bidan, melainkan bagaimana distribusi dan pemerataan penempatan tenaga kesehatan dapat menjangkau hingga wilayah pedalaman dan desa terpencil.
Editor: Andrian