INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Keluhan terkait distribusi BBM subsidi kembali mencuat di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Kali ini, seorang warga mengaku dibuat bingung setelah barcode Pertalite miliknya tercatat telah digunakan untuk mengisi 80 liter, padahal selama tiga hari terakhir belum dipakai sama sekali.
Peristiwa itu dialami E Purwadi saat mengantre di SPBU Jalan Ahmad Yani, dekat Bundaran Pangkalan Lima, Selasa (14/7/2026). Setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya tiba di dispenser untuk mengisi Pertalite.
Namun, harapannya pupus ketika petugas SPBU menyampaikan bahwa barcode miliknya sudah mencapai batas kuota karena sebelumnya tercatat telah digunakan untuk mengisi Pertalite sebanyak 80 liter. Mendengar penjelasan itu, E Purwadi langsung mempertanyakan data tersebut.
“Saya kaget sekali. Sudah tiga hari saya tidak pernah mengisi Pertalite, kok dibilang barcode saya sudah isi 80 liter. Saya sampai berdebat dengan petugas karena merasa itu bukan saya,” kata E Purwadi kepada media ini.
Akibat kejadian itu, ia gagal mendapatkan Pertalite setelah mengantre cukup lama. Menurutnya, kejadian tersebut perlu mendapat perhatian agar masyarakat tidak mengalami hal serupa saat hendak membeli BBM subsidi.
Selain persoalan barcode, E Purwadi juga mengeluhkan kondisi antrean di SPBU yang menurutnya masih belum tertata. Ia mengaku sempat melihat kendaraan yang datang belakangan justru lebih dulu mengisi Pertalite, sehingga memicu rasa kecewa di kalangan warga yang sudah lama mengantre.
Ia berharap pengelola SPBU bersama pihak terkait dapat melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan, termasuk memastikan data penggunaan barcode benar-benar sesuai dengan transaksi yang dilakukan oleh pemilik kendaraan.
Persoalan antrean Pertalite di Kotawaringin Barat sebelumnya juga telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Bupati Kotawaringin Barat Hj Nurhidayah menyatakan akan memanggil pihak Pertamina untuk membahas berbagai keluhan masyarakat mengenai distribusi BBM subsidi.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait laporan warga tersebut, Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Theodorus Priyo Santosa menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi yang diterima. “Terima kasih infonya, nanti akan kita turun ke lapangan,” ujarnya.
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai akurasi sistem barcode Pertalite. Warga berharap ada penjelasan yang jelas serta langkah evaluasi agar pelayanan BBM subsidi berlangsung lebih transparan, tertib, dan tidak merugikan masyarakat yang berhak menerima subsidi.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian