website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Bang Wahyu Soroti Kesehatan Anak Sekolah Saat Asap Karhutla Menebal

Ketua Komisi A DPRD Kobar, Muhammad Isro Wahyuddin atau Bang Wahyu. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin menebal di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi perhatian DPRD Kobar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya anak-anak sekolah yang tetap menjalani aktivitas belajar di tengah kualitas udara yang memburuk.

Ketua Komisi A DPRD Kobar Muhammad Isro Wahyuddin atau Bang Wahyu meminta pemerintah daerah menempatkan kesehatan dan keselamatan siswa sebagai prioritas dalam menghadapi dampak kabut asap.

“Yang paling penting sekarang kesehatan anak-anak sekolah. Jangan sampai mereka dipaksakan belajar tatap muka ketika kondisi udara sudah tidak sehat dan bisa membahayakan kesehatan,” kata Bang Wahyu, Jumat (21/8/2026)

Menurutnya, pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kobar harus terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengambil langkah cepat apabila kondisi semakin memburuk.

Pasang Iklan

Bang Wahyu menilai skenario Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah dapat menjadi pilihan apabila kualitas udara sudah berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

“Kalau kondisi asap semakin pekat dan kualitas udara tidak memungkinkan untuk belajar seperti biasa, jangan dipaksakan. Keselamatan anak-anak harus diutamakan,” tegasnya.

Sebelumnya, Disdikbud Kobar telah menyiapkan protokol kesehatan dan operasional sekolah menghadapi dampak kemarau serta polusi karhutla. Kebijakan tersebut berlaku bagi satuan pendidikan mulai PAUD, SD hingga SMP.

Dalam ketentuan itu, seluruh warga sekolah diwajibkan menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Kegiatan outdoor seperti upacara, olahraga dan ekstrakurikuler juga dapat dihentikan sementara apabila kualitas udara menurun.

Untuk PAUD, SD kelas 1 sampai 6, serta SMP kelas 7, pembelajaran dapat dialihkan menjadi PJJ atau belajar dari rumah ketika kualitas udara mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Sementara itu, pembelajaran tatap muka bagi siswa SMP kelas 8 dan 9 dapat tetap dilaksanakan dengan pengurangan jam belajar serta penyesuaian waktu masuk sesuai kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

Pasang Iklan

Bang Wahyu juga meminta sekolah aktif memantau kualitas udara melalui informasi resmi BMKG maupun sumber pemantauan kualitas udara lainnya. Sekolah juga harus segera berkoordinasi dengan Disdikbud apabila kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan.

“Jangan sampai kita terlambat mengambil keputusan. Pendidikan memang penting, tetapi kesehatan dan keselamatan anak-anak jauh lebih utama,” pungkas Bang Wahyu.

Penulis: Yusro
Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Pasang Iklan Ikuti Saluran
error: Content is protected !!