INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Riuh mesin klotok yang biasa membawa wisatawan menyusuri sungai di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting kini mulai dibayangi keresahan. Para pelaku usaha wisata sungai di Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengaku kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak setelah pembelian BBM menggunakan galon di SPBU tidak lagi diperbolehkan.
Kebijakan tersebut membuat banyak pemilik klotok kelimpungan memenuhi kebutuhan operasional kapal.
Padahal, klotok wisata menjadi transportasi utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang menikmati wisata alam Tanjung Puting. Dalam satu perjalanan wisata, kapal bisa beroperasi selama beberapa hari menyusuri sungai hingga masuk ke kawasan konservasi.
Sekretaris Himpunan Klotok Wisata Kumai, Ahmad Yani, mengatakan keluhan mengenai sulitnya memperoleh BBM terus disampaikan para pengusaha wisata.
Menurut dia, kondisi itu mulai berdampak terhadap pelayanan wisatawan karena kebutuhan bahan bakar kapal tidak bisa dipenuhi dengan mudah seperti sebelumnya.
“Sekarang membeli BBM pakai galon sudah tidak diperbolehkan lagi. Teman-teman jadi kesulitan karena kebutuhan kapal cukup besar,” kata Ahmad Yani, Rabu (13/5).
Ia menuturkan, sebelumnya para pemilik klotok masih dapat membeli BBM di SPBU menggunakan galon untuk keperluan operasional kapal wisata. Namun setelah aturan diperketat, sebagian pengusaha terpaksa mencari bahan bakar dari pengecer dengan harga jauh lebih mahal dibanding harga resmi.
Untuk mendapatkan 20 liter BBM, pelaku usaha disebut harus mengeluarkan biaya hingga Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Kondisi itu dinilai sangat memberatkan karena satu klotok wisata membutuhkan sekitar 60 hingga 80 liter bahan bakar untuk perjalanan tiga sampai empat hari. Sementara di SPBU, harga BBM masih berada di kisaran Rp24.500 per liter.
Para pelaku wisata berharap pemerintah daerah dapat segera mencarikan solusi agar distribusi BBM bagi usaha klotok wisata tetap berjalan.
Mereka khawatir jika persoalan ini terus berlarut, aktivitas wisata di Kumai akan terganggu dan berdampak pada citra pariwisata Kotawaringin Barat yang selama ini dikenal sebagai pintu gerbang menuju Tanjung Puting.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian