website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Waspada Hipertensi Setelah Kalap Makan Daging Kurban

Ilustrasi olahan daging sapi. (Net)

INTIMNEWS.COM – Momen Idul Adha identik dengan sajian daging sapi dan kambing yang diolah menjadi sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun di balik kelezatan tersebut, masyarakat perlu mewaspadai risiko kesehatan, terutama lonjakan tekanan darah atau hipertensi akibat konsumsi daging berlebihan.

Dokter dan ahli gizi mengingatkan, konsumsi daging merah secara berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu peningkatan tekanan darah, kolesterol, hingga memperberat risiko penyakit jantung dan stroke. Kondisi ini umumnya terjadi setelah Idul Adha ketika pola makan berubah drastis dan masyarakat cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak, garam, serta santan secara terus-menerus.

Kementerian Kesehatan RI menyebut hipertensi sering dijuluki “silent killer” karena kerap tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung bila tidak dikendalikan. Karena itu, pola makan saat Idul Adha perlu diperhatikan dengan baik.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Dian Permatasari mengatakan penderita hipertensi sebenarnya tetap boleh mengonsumsi daging kurban, baik sapi maupun kambing. Namun, bagian daging yang dipilih sebaiknya rendah lemak dan tidak disertai jeroan.

Pasang Iklan

“Yang diambil bagian dagingnya saja, terutama yang tanpa lemak,” ujarnya.

Bagian berlemak seperti iga, kulit, atau jeroan diketahui mengandung lemak jenuh dan kolesterol lebih tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, kondisi ini dapat mempercepat kenaikan tekanan darah dan memperburuk kesehatan pembuluh darah.

Selain memilih bagian daging, cara mengolah makanan juga sangat menentukan. Banyak olahan khas Idul Adha menggunakan santan dan garam berlebih, seperti gulai atau rendang. Padahal kombinasi lemak jenuh dan natrium tinggi dapat meningkatkan tekanan darah secara cepat.

Dokter neurologi Heri Munajib mengingatkan penggunaan santan, garam, dan bumbu berlebihan perlu dibatasi, terutama bagi penderita hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung. Ia menyarankan metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, memanggang, atau mengukus.

Ahli kesehatan juga menyarankan masyarakat membatasi konsumsi daging merah sekitar 75–100 gram per porsi atau setara satu potong sedang. Konsumsi berlebihan dalam satu waktu dapat menyebabkan lonjakan lemak jenuh dalam tubuh dan memicu gangguan metabolik.

Selain itu, konsumsi daging sebaiknya diimbangi dengan sayur dan buah yang kaya serat. Serat membantu mengontrol kolesterol dan memperlancar metabolisme tubuh setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak. Sayuran seperti tomat, wortel, lobak, dan bawang-bawangan juga mengandung antioksidan yang baik bagi kesehatan pembuluh darah.

Pasang Iklan

Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih dan tetap aktif bergerak setelah menikmati hidangan kurban. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dapat membantu tubuh membakar lemak dan menjaga tekanan darah tetap stabil.

Fenomena “balas dendam makan daging” saat Idul Adha memang kerap terjadi di tengah masyarakat. Bahkan warganet di media sosial ramai bercanda soal kolesterol, asam urat, dan tekanan darah setelah berhari-hari menyantap gulai dan sate. Namun di balik candaan tersebut, para ahli mengingatkan pentingnya menjaga pola makan agar momen kebersamaan tidak berubah menjadi ancaman kesehatan.

Pada akhirnya, menikmati daging kurban bukanlah hal yang dilarang. Yang paling penting adalah mengatur porsi, memilih bagian daging yang sehat, serta menghindari konsumsi berlebihan. Dengan pola makan yang bijak, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan Idul Adha tanpa harus khawatir tekanan darah melonjak. (AFS)

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!