INTIMNEWS.COM, KATINGAN – Pemerintah Desa (Pemdes) Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, membantah anggapan yang menyebut seluruh masyarakat desa terlibat dalam tragedi penyerangan terhadap anggota kepolisian saat penggerebekan bandar narkoba beberapa waktu lalu.
Kepala Desa Tumbang Kalemei, Herihandy menegaskan, peristiwa tersebut dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu yang merupakan bagian dari jaringan peredaran narkoba, bukan melibatkan seluruh warga desa sebagaimana narasi yang beredar di media sosial.
“Terkait pemberitaan yang beredar di beberapa laman media sosial yang menyatakan bahwa semua warga Tumbang Kalemei terlibat dalam peristiwa tersebut adalah tidak benar,” ujarnya dalam video klarifikasi yang disampaikan kepada publik, Selasa, 14 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh masyarakat turut berduka atas tragedi yang merenggut korban jiwa, baik dari kalangan sipil maupun anggota kepolisian.
“Kami mengucapkan belasungkawa serta turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban yang ditinggalkan,” katanya.
Peristiwa itu bermula saat personel Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei pada 2 Juli 2026. Operasi tersebut berujung penyerangan terhadap petugas hingga menyebabkan Aiptu Anumerta Yudhi Perdana Putra gugur di lokasi kejadian.
Sementara itu, Bripda Anumerta Nopandri Ramadhana dan Ipda Anumerta Sumariyanto sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Katingan. Insiden tersebut juga mengakibatkan adanya korban dari pihak sipil.
Sejak kejadian itu, Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama Mabes Polri melakukan pengejaran terhadap para pelaku.
Hingga Sabtu, 11 Juli 2026, Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan menyebut sebanyak sembilan orang terduga pelaku telah diamankan.
“Kurang lebih sembilan orang sudah kita amankan dan kita lakukan penangkapan,” kata Iwan.
Menanggapi berkembangnya informasi di media sosial, Herihandy menegaskan, pelaku penyerangan merupakan orang-orang tertentu yang tergabung dalam jaringan pengedar narkoba.
“Fakta yang terjadi di lapangan adalah hal tersebut dilakukan oleh orang tertentu, individu atau kelompok dari jaringan pengedar narkoba tersebut. Sekali lagi saya menegaskan bahwa tidak semua warga masyarakat kami terlibat dalam peristiwa tersebut,” tegasnya.
Ia mengaku sangat kecewa dengan munculnya stigma yang menyudutkan seluruh warga Desa Tumbang Kalemei. Menurutnya, anggapan tersebut berdampak terhadap kondisi sosial masyarakat, terutama anak-anak.
“Kami sangat kecewa dengan pemberitaan yang menyatakan semua warga kami terlibat, karena stigma yang melekat ini sangat berdampak buruk terhadap masyarakat kami dan anak-anak kami secara mental dan psikologis,” ucapnya.
Herihandy memastikan, Pemerintah Desa Tumbang Kalemei mendukung penuh langkah kepolisian dalam mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke akar jaringan narkoba.
“Kami Pemerintah Desa Tumbang Kalemei menyatakan perang terhadap narkoba di wilayah desa kami, serta mendukung penuh upaya Polri dalam pemberantasan narkoba,” tambahnya.
Ia berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang berkembang sehingga tidak lagi muncul anggapan bahwa seluruh masyarakat Desa Tumbang Kalemei terlibat dalam tragedi berdarah tersebut.