website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Peternak Ayam di Palangka Raya Rugi Jutaan Rupiah per Hari akibat Pemadaman Listrik

Perwakilan peternak ayam Arif (kiri) dan Satrio (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan usai mengikuti aksi Gerakan Palangka Raya Gelap di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Rabu, 29 Juli 2026. (Shr/Intimnews)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Palangka Raya mulai berdampak besar terhadap usaha peternakan ayam. Selain menyebabkan ratusan ayam mati, peternak juga harus mengeluarkan biaya tambahan jutaan rupiah setiap hari untuk mengoperasikan genset.

Arif (41), seorang peternak ayam yang menjadi bagian dari Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) mengaku kerugian yang dialaminya belum dihitung secara rinci. Namun, biaya operasional terus membengkak karena harus membeli solar untuk menjaga pasokan listrik di kandang miliknya di kawasan Kilometer 45 arah Kasongan.

“Tidak hanya ayam yang mati, kami juga harus mengeluarkan sekitar Rp3 juta setiap hari untuk membeli solar genset. Itu pun masih kesulitan karena pembelian solar non-subsidi dibatasi,” kata Arif saat ditemui dalam aksi di Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menjelaskan, keterbatasan pembelian solar membuat peternak harus mencari berbagai cara agar genset tetap bisa beroperasi. Kondisi tersebut semakin memperberat beban usaha di tengah pemadaman listrik yang belum kunjung berakhir.

Pasang Iklan

Arif menilai, dampak pemadaman tidak hanya dirasakan peternak. Pelaku usaha lain seperti laundry, rumah makan, hingga bengkel las juga mengalami kerugian karena aktivitas usaha terganggu.

“Rumah makan, laundry, tukang las, semua terdampak. Harapan kami besok semuanya harus jelas dan ke depan tidak ada lagi pemadaman listrik,” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan mulai dirasakan sejak awal pemadaman listrik berlangsung. Kondisi semakin parah ketika genset yang digunakan terus-menerus mengalami gangguan akibat bekerja melebihi kapasitas.

“Kemarin bukan gensetnya yang rusak, tetapi selang solarnya jebol karena kepanasan. Saat diperbaiki, listrik mati dan banyak ayam menghirup amonia hingga akhirnya mati,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan Satrio (35), yang juga berprofesi sebagai peternak. Ia mengaku sempat mengubur ayam-ayam yang mati akibat pemadaman listrik. Namun, setelah melihat kerugian yang terus bertambah, ia memutuskan bergabung dalam aksi untuk menyampaikan langsung keluhan kepada PLN.

Menurut Satrio, pemadaman listrik telah banyak merugikan pelaku usaha. Mulai dari peternak, usaha laundry, rumah makan, hingga pangkas rambut yang bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan usahanya.

Pasang Iklan

“Kalau bukan kita yang menyampaikan, siapa lagi? Semua pelaku usaha terdampak. Karena itu saya mengajak seluruh masyarakat yang merasakan dampaknya datang bersama menyampaikan aspirasi,” ucapnya.

Ia berharap pertemuan dengan General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat menghasilkan solusi atas persoalan pemadaman listrik yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

“Kita akan bertemu dengan Pak GM dan menyampaikan aspirasi baik-baik. Kami tidak anarkis, kami hanya ingin mereka mengerti dan memahami apa yang dirasakan masyarakat,” tutup Satrio.

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!