website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Pemprov Kalteng Susun RUPM 2025–2045, Targetkan Investasi Rp 31 Triliun di 2029

Sekda Kalteng Leonard S Ampung didampingi Kepala DMPTSP saat wawancara. (Redha)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar forum strategis dalam rangka penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Provinsi Kalteng periode 2025–2045, serta penguatan kapasitas promosi penanaman modal tahun 2025. Kegiatan berlangsung di Swiss-Belhotel Danum, Palangka Raya, Rabu (16/7/2025).

Forum ini diprakarsai oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalteng dan menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan daerah. Di antaranya, perwakilan Bank Indonesia Kalteng Akhim Kuncoro, public speaker dari Skopindo Jakarta Novita Candra, serta jajaran kepala DPMPTSP kabupaten/kota se-Kalteng.

Kepala DPMPTSP Kalteng, Sutoyo, dalam sambutannya menekankan pentingnya RUPM sebagai pedoman jangka panjang untuk pembangunan dan investasi daerah. “RUPM ini bukan sekadar dokumen teknokratis, tetapi panduan strategis selama 20 tahun ke depan. Kami ingin menyelaraskan arah kebijakan pusat dan daerah dalam pemanfaatan sumber daya alam secara bijak, mendorong potensi lokal, serta memperkuat daya saing investasi Kalteng,” ujar Sutoyo.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat kapasitas perencanaan daerah agar mampu menyusun dokumen promosi yang efektif dan menarik investor yang tepat.

Pasang Iklan

Sementara itu, Plt. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalteng, Leonard S. Ampung, menyoroti masih adanya kesenjangan antara potensi sumber daya alam yang melimpah dan realisasi investasi yang belum optimal.

“Kita punya kekayaan alam, tapi investasi belum maksimal. Tahun ini kita targetkan Rp21 triliun, dan tahun 2029 ditargetkan mencapai Rp31 triliun. Ini butuh kerja bersama seluruh PTSP provinsi dan kabupaten/kota,” tegas Leo.

Leonard juga menekankan pentingnya investasi yang beretika dan berpihak pada masyarakat. “Investasi tidak boleh hanya mengejar untung. Investor wajib menabung di Bank Kalteng, menggunakan pelat KH untuk kendaraan operasional, dan menyerap tenaga kerja lokal. Ini cara konkret investasi membantu mengurangi kemiskinan,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Leonard menggarisbawahi pentingnya keterpaduan perencanaan investasi dengan desain pembangunan jangka panjang provinsi. Ia memetakan tiga zona pengembangan:

Leo juga menyinggung perlunya percepatan pembangunan infrastruktur dasar dan penguatan pendanaan daerah. Ia mencontohkan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp700 miliar yang masih tertahan di pusat. “Kita tidak boleh terus bergantung. Kita dorong BUMD dan PRUSDA mengelola lahan sawit di atas HGU tumpang tindih,” ungkapnya.

Ia menyoroti potensi hilirisasi komoditas seperti batubara, silika, dan bauksit agar tidak lagi diekspor mentah. Leonard juga mengeluhkan minimnya pelabuhan utama di Kalteng, meskipun provinsi ini memiliki 11 sungai dan garis pantai sepanjang 750 km.

“Hanya 15 persen distribusi dari Kalteng dilakukan melalui pelabuhan kita. Sisanya dari luar. Maka, pengerukan Kapuas Murung dan Barito harus diprioritaskan agar distribusi tidak selalu melalui Pelabuhan Trisakti di Kalsel,” paparnya.

Leonard menyebut potensi global Kalteng sangat besar, termasuk untuk ekowisata dan riset lingkungan. Ia mengungkap ada lebih dari 60 ribu mahasiswa dari Eropa dan Amerika tertarik untuk studi ekosistem di wilayah Taman Nasional Sebangau. “Bahkan investor dari Swiss dan Turki sudah menyatakan minat terhadap potensi ekowisata kita. Tapi infrastruktur harus kita siapkan dengan serius,” katanya.

Menutup arahannya, Leonard menegaskan bahwa RUPM 2025–2045 harus selaras dengan visi nasional Indonesia Emas 2045. “Penyusunan RUPM ini bukan rutinitas. Ini perencanaan jangka panjang untuk menjawab tantangan dua dekade ke depan,” pungkasnya.

Pasang Iklan

Penulis: Redha
Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran