INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Falsafah Dayak Kalimantan mendapat ruang dalam karya musik Patricia Akwan, musisi asal Papua. Melalui lagu “Falsafah Nusantara”, Patricia memadukan sejumlah bahasa dan nilai budaya dari berbagai daerah Indonesia, termasuk falsafah Dayak Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Karya tersebut mendapat perhatian setelah beredar di media sosial. Penggunaan falsafah Dayak dalam karya musisi dari Papua dinilai menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi titik temu antardaerah.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Junaidi, menyambut positif karya tersebut. Ia melihat kehadiran falsafah Dayak dalam lagu Patricia bukan sekadar bagian dari lirik, melainkan bentuk penghargaan terhadap identitas budaya daerah.
“Budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dari berbagai daerah. Karena itu, apresiasi yang datang dari Papua tersebut patut disambut dengan baik,” ujar Junaidi, Senin, 17 Agustus 2026.
Menurut Junaidi, budaya memiliki kekuatan untuk melampaui batas wilayah dan latar belakang masyarakat. Ketika nilai budaya Dayak diperkenalkan melalui karya seorang musisi Papua, menurut dia, pesan yang muncul bukan hanya soal seni, tetapi juga tentang persaudaraan dalam bingkai Indonesia.
Falsafah Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata sendiri merupakan ungkapan yang mengandung nilai tentang keadilan kepada sesama, menjadikan kehidupan yang baik sebagai pedoman, serta kesadaran bahwa kehidupan bersumber dari Tuhan.
Junaidi mengatakan Kalteng dan Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, ia menyampaikan apresiasi ketika identitas budaya Dayak mendapat tempat dalam karya seniman dari Papua.
“Kalteng dan Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia. Ketika salam khas diucapkan oleh saudara-saudara dari Papua, tentu mengucapkan terima kasih,” katanya.
Ia berharap karya Patricia Akwan dapat menjadi pemantik semakin banyaknya pertukaran budaya antardaerah. Menurutnya, hubungan antara masyarakat Dayak Kalteng dan Papua tidak harus dibangun melalui agenda formal, tetapi juga dapat tumbuh melalui musik, seni, bahasa dan ekspresi kebudayaan.
“Selain itu berharap hubungan antarmasyarakat, khususnya antara masyarakat Dayak Kalteng dan Papua, semakin erat melalui pertukaran budaya dan karya seni,” tambahnya.
Bagi Junaidi, keberagaman budaya Indonesia seharusnya tidak dipandang sebagai sekat. Justru, perbedaan bahasa, tradisi dan falsafah dapat menjadi kekuatan ketika ditempatkan sebagai bagian dari identitas bersama sebagai bangsa.
Ia berharap penggunaan falsafah Dayak dalam karya musisi Papua tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat mempertemukan masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara.
“Semoga ini menjadi jembatan silaturahmi dan kebersamaan yang makin kokoh antara masyarakat Dayak Kalteng dengan masyarakat Papua,” ungkapnya.
Karya “Falsafah Nusantara” Patricia Akwan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang musik. Karya itu membawa pesan tentang bagaimana beragam identitas lokal dapat ditempatkan dalam satu ruang kebangsaan tanpa harus kehilangan ciri khas masing-masing.
Penulis: Muhammad Suhairi
Editor: Andrian