INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus menunjukkan peningkatan memasuki musim kemarau. Hingga 19 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng mencatat sebanyak 2.844 titik panas (hotspot) dan 563 kejadian kebakaran di berbagai wilayah.
Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng, Ahmad Toyib mengatakan, sebaran hotspot paling banyak ditemukan di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 401 titik.
“Sepanjang periode Januari hingga pertengahan Juli ini, konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 401 titik, disusul Lamandau 374 titik, Kapuas 365 titik, dan Katingan 356 titik,” kata Toyib, Selasa, 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah hotspot dipengaruhi kondisi cuaca yang mulai kering hampir di seluruh wilayah Kalteng. Vegetasi yang mengering juga membuat api lebih cepat menjalar saat terjadi kebakaran.
Meski begitu, BPB-PK bersama tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman. Sebanyak 94 personel dikerahkan ke lapangan dengan dukungan empat unit helikopter water bombing.
“Kami melihat pergerakan api sangat cepat akibat vegetasi lahan yang mulai mengering. Seluruh satgas, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, diinstruksikan untuk mempertahankan status siaga penuh demi mengamankan visi Kalteng Bebas Kabut Asap 2026,” ujarnya.
Data BPB-PK mencatat luas lahan yang terbakar berdasarkan laporan kabupaten dan kota mencapai 852,58 hektare. Namun, hasil verifikasi menggunakan citra satelit Landsat 8 yang dipadukan dengan data hotspot dan pengecekan lapangan oleh Manggala Agni menunjukkan luas kebakaran mencapai 3.069,52 hektare.
Selain menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, Kabupaten Kotawaringin Timur juga mencatat 96 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 188 hektare.
Sementara itu, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan frekuensi penanganan kebakaran paling tinggi, yakni 199 kali. Adapun area terbakar terluas berada di Kabupaten Sukamara yang mencapai 138,2 hektare dari 237 hotspot yang terpantau.
Toyib menambahkan, seluruh personel di lapangan tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi bertambahnya titik api selama musim kemarau.
“Seluruh satgas di tingkat provinsi maupun kabupaten terus bersiaga agar setiap laporan kebakaran dapat ditangani secepat mungkin dan tidak berkembang menjadi kabut asap,” tutupnya.
Editor: Andrian