INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA — Gubernur Agustiar Sabran menegaskan komitmennya membangun Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk semua kalangan, bukan untuk segelintir golongan. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi inspektur upacara perayaan Hari Ulang Tahun ke-68 Kota Palangka Raya yang dirangkai dengan HUT ke-60 Pemerintah Kota Palangka Raya, Rabu pagi 17 Juli 2025.
“Setiap masa ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya. Semangat kolaborasi di atas segalanya. Saya membangun untuk semua, bukan untuk golongan tertentu,” ujar Agustiar di hadapan Wakil Gubernur Kalteng, Wakapolda Kalteng, Kabinda, Danrem 102 Panju Panjung, dan seluruh anggota DPRD Kota Palangka Raya yang hadir di halaman Kantor Wali Kota Palangka Raya Kilometer 5.
Dalam sambutannya, Sugianto mengutip Presiden Prabowo Subianto bahwa “Satu lawan terlalu banyak, seribu kawan masih terlalu sedikit. Melalui sprint Huma Betang, semangat utus dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia” Ia pun mendorong pemerintah kota untuk terus mengawal pembangunan dan memberdayakan masyarakat adat dengan semangat keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, pembangunan Kalteng harus menyentuh hingga ke pedalaman dan pedesaan. Ia mengklaim telah mendorong penguatan pembangunan melalui alokasi program Rp 250 hingga Rp 500 juta per desa untuk menopang tercapainya visi misi gubernur dan presiden yang seirama.
“Regulasi dan mekanisme sudah kita matangkan untuk berjalan efektif di tahun 2026. Kita juga fokus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sebagai syarat utama membangun secara mandiri. Dengan semangat Huma Betang, kita mampu melewati tantangan ini,” ucap Agustiar.
Upacara peringatan ini turut dikawal ketat oleh personel TNI dan Polri demi kelancaran acara. Seluruh jajaran dinas pemerintah Kota Palangka Raya juga hadir dalam barisan upacara yang berlangsung khidmat.
Kota Palangka Raya sendiri memiliki sejarah yang erat dengan Presiden pertama RI, Soekarno. Pada tahun 1957, Soekarno memilih lokasi di jantung Kalimantan Tengah ini untuk dijadikan Ibu Kota Provinsi yang baru, sekaligus memimpikan Palangka Raya menjadi ibu kota negara pengganti Jakarta. Dalam kunjungan pertamanya, Bung Karno bahkan membenamkan tongkatnya ke tanah Palangka Raya sebagai simbol tekad membangun kota di tengah hutan rimba yang kala itu masih perawan.
Di hadapan para tokoh Dayak dan rakyat setempat, Soekarno menyampaikan visinya agar Palangka Raya tidak sekadar menjadi ibu kota provinsi, tetapi juga simbol kemajuan dan kesetaraan bagi kawasan timur Indonesia. Meskipun cita-cita itu belum sepenuhnya terwujud, namun Palangka Raya tetap tumbuh sebagai salah satu kota terluas di dunia dengan warisan semangat nasionalisme yang terus hidup hingga kini.
Penulis: Redha
Editor: Andrian