INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Transformasi digital kembali menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor pariwisata Kalimantan Tengah (Kalteng). Di tengah ketatnya kompetisi destinasi wisata nasional, Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Ferry Khaidir, menegaskan bahwa promosi wisata daerah tidak akan mampu menembus pasar global jika penguatan teknologi digital belum dikerjakan secara serius.
Ia menyoroti masih minimnya optimalisasi media sosial, situs web, maupun platform aplikasi pariwisata resmi yang memuat informasi lengkap mengenai destinasi unggulan daerah. Menurutnya, ketika provinsi dan kabupaten lain sudah bergerak cepat, Kalteng masih terkesan sporadis dalam mengelola promosi digital.
“Kita harus beradaptasi dengan perubahan teknologi jika ingin wisata kita bersaing secara global,” tegas Ferry, Kamis 30/10/2025.
Ferry memaparkan bahwa inti tantangan bukan pada ketersediaan konten, tetapi kualitas penyajian yang belum memenuhi standar promosi pariwisata modern. Ia meyakini video pendek, foto beresolusi tinggi, dan narasi kreatif yang menggambarkan pesona alam serta budaya lokal akan lebih efektif menarik minat wisatawan.
“Promosi bukan sekadar banyak unggahan, tetapi bagaimana konten mampu menggugah,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa upaya digitalisasi tidak boleh dilakukan sekadarnya. Promosi wisata yang hanya dilakukan secara spontan tanpa strategi jangka panjang dinilai tidak akan menghasilkan dampak signifikan.
“Promosi di dunia maya memerlukan perencanaan yang matang dan konsisten untuk membangun citra positif destinasi,” katanya.
Dalam penilaiannya, kelemahan terbesar saat ini terletak pada ketiadaan ekosistem digital terpadu. Ia menyebut semua pihak seharusnya bekerja dalam satu ritme, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha wisata, fotografi kreatif, travel agent, konten kreator, hingga penggiat budaya.
“Tanpa kerja sama lintas sektor, upaya digitalisasi hanya berhenti di wacana,” ucapnya.
Ferry mendorong pemerintah daerah untuk tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik pariwisata, namun juga membangun kemampuan digital bagi para pelaku usaha lokal. Banyak pengelola objek wisata, homestay, hingga UMKM wisata masih belum kompeten dalam pemasaran digital.
“Pelatihan dan pendampingan digital harus diperluas agar pelaku wisata percaya diri memperkenalkan produk mereka,” jelasnya.
Ia menilai promosi digital mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat tanpa harus menunggu event besar atau dukungan investor dari luar daerah. Ketika semua pelaku wisata memiliki kemampuan digital yang memadai, arus informasi positif tentang Kalteng akan menyebar secara alami di berbagai platform.
Ferry juga mengingatkan bahwa promosi digital berperan besar dalam membentuk persepsi wisatawan terhadap keamanan, kenyamanan, dan daya tarik suatu daerah. Terbatasnya informasi dapat menyebabkan calon wisatawan memilih destinasi lain yang lebih mudah mereka telusuri secara online. “Kita tidak boleh kalah hanya karena keterbatasan informasi,” tuturnya.
Jika digitalisasi pariwisata dikelola serius, Ferry meyakini Kalteng mampu mengejar ketertinggalan dibanding provinsi lain. Wisata alam, budaya, dan keunikan kuliner Kalteng memiliki daya tarik kuat yang belum sepenuhnya tersampaikan ke audiens global.
“Kalteng punya potensi besar. Tinggal bagaimana kita menjualnya ke dunia,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, ia menyebut digitalisasi bukan sekadar trend, tetapi kebutuhan mendesak untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. “Digitalisasi bisa menjadi motor penggerak kemajuan sektor pariwisata Kalteng jika dijalankan dengan serius dan kreatif,” pungkas Ferry.
Editor: Andrian