website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Delapan Bulan Terjebak Online Scam di Kamboja, Warga Barsel Akhirnya Pulang

Supiat (21), warga Barito Selatan yang menjadi korban TPPO dan online scam di Kamboja, tiba di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya dan disambut Kepala Disnakertrans Provinsi Kalteng, Farid Wajdi, Kepala BP3M Kalsel, Ady Eldiwan, sebelum dipulangkan ke kampung halamannya, Selasa, 30 Juni 2026. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Setelah delapan bulan terjebak dalam jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan perusahaan penipuan daring (online scam) di Kamboja, Supiat (21), warga Kabupaten Barito Selatan (Barsel), akhirnya berhasil kembali ke Indonesia dan tiba di Palangka Raya, pada Selasa, 30 Juni 2026.

Setibanya di Bandara Tjilik Riwut, Supiat disambut oleh Badan Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran (BP3M) Kalimantan Selatan (Kalsel), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), serta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Barito Selatan. Selanjutnya, ia dipulangkan ke kampung halamannya untuk bertemu keluarga.

Supiat mengaku bersyukur bisa kembali ke tanah air setelah berbulan-bulan berada di luar negeri. Ia berangkat karena tergiur tawaran pekerjaan di sektor perkebunan dengan gaji Rp9 hingga Rp10 juta per bulan.

“Sangat lega dan akhirnya bisa tenang. Saya memang tidak disekap selama di sana, tetapi berangkat karena diiming-imingi pekerjaan di kebun dengan gaji sekitar Rp9 sampai Rp10 juta per bulan,” ujarnya.

Pasang Iklan

Ia menceritakan, perjalanan menuju Kamboja dimulai dari Palangka Raya menuju Banjarmasin, lalu ke Jakarta dan Pekanbaru sebelum diterbangkan ke luar negeri. Seluruh biaya keberangkatan ditanggung oleh pihak perekrut.

Namun, sesampainya di Kamboja, janji bekerja di perkebunan tidak pernah terwujud. Setelah sempat menunggu di bandara, ia diterbangkan ke Thailand dan dijemput menuju lokasi yang disebut sebagai kebun.

“Setelah tiba di Thailand saya dijemput menggunakan travel. Katanya diantar ke kebun, tetapi ternyata yang saya datangi adalah perusahaan scam. Dari Indonesia hanya saya seorang di tempat itu,” ungkapnya.

Selama bekerja, Supiat mengaku tidak mengalami penyekapan maupun kekerasan fisik. Meski begitu, apabila target pekerjaan tidak tercapai, ia mendapat hukuman berupa pekerjaan fisik, seperti mengangkat barang-barang berat.

Keinginan untuk pulang akhirnya mendorong Supiat mencari bantuan. Karena keterbatasan biaya, ia menghubungi salah satu media di Kalteng dan mengirimkan video yang kemudian viral di media sosial hingga menarik perhatian pemerintah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalteng, Farid Wajdi, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan BP3M Kalsel setelah menerima informasi tersebut.

Pasang Iklan

“Setelah informasi kami validasi, kami langsung bergerak cepat. Selanjutnya Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk melakukan proses pemulangan korban,” jelas Farid.

Sementara itu, Kepala BP3M Kalsel, Ady Eldiwan, menyebut pihaknya masih menelusuri jaringan yang merekrut dan memberangkatkan korban secara ilegal.

“Kasus ini masih kami dalami untuk mengungkap siapa aktor di belakang TPPO dan penipuan online scam ini. Kami berharap kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Ady menambahkan, pihaknya bersama pemerintah daerah akan memperluas sosialisasi mengenai prosedur bekerja ke luar negeri yang legal dan aman agar masyarakat tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan bergaji besar yang berpotensi menjadi modus perdagangan orang.

“Kami akan terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar memperoleh informasi yang benar mengenai prosedur bekerja ke luar negeri secara aman dan tidak menjadi korban perdagangan orang,” pungkasnya.

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!