INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies baru terong berduri asal Kalimantan yang diberi nama Solanum kalimantanense.
Temuan tersebut menjadi tambahan penting bagi kekayaan biodiversitas Indonesia, khususnya dari Pulau Kalimantan yang masih menyimpan banyak potensi flora belum terdokumentasi secara ilmiah.
Spesies baru itu ditemukan melalui eksplorasi lapangan yang dilakukan tim peneliti BRIN di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan selama periode 2022 hingga 2024.
Tim peneliti terdiri dari Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, serta Siti Susiarti dari Pusat Riset Ekologi BRIN.
Peneliti Muhammad Rifqi Hariri mengatakan, penemuan tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat besar.
“Masih banyak spesies tumbuhan di Indonesia yang belum terdokumentasi secara ilmiah, termasuk tanaman yang sebenarnya sudah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujar Rifqi dalam keterangan tertulis, Sabtu, 23 Mei 2026 lalu.
Solanum kalimantanense termasuk dalam kelompok terong berduri atau Leptostemonum clade dan memiliki kemiripan dengan spesies Solanum lasiocarpum.
Meski demikian, peneliti menemukan sejumlah ciri khas yang membedakan spesies baru tersebut, mulai dari bentuk daun, tekstur buah, hingga ukuran buah yang lebih besar dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.
Selain pengamatan morfologi, tim peneliti juga melakukan analisis DNA menggunakan penanda ITS yang menunjukkan adanya perbedaan genetik cukup signifikan.
Masyarakat lokal sendiri telah lama mengenal tanaman tersebut dengan sebutan terong asam atau terong Dayak.
Peneliti BRIN, Tutie Djarwaningsih mengatakan buah tanaman itu umum dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan dan kerap dijual di pasar terapung Banjarmasin.
“Biasanya diolah menjadi sayuran oleh masyarakat,” katanya.
Tidak hanya sebagai bahan makanan, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, juga memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman tersebut sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat” untuk pengobatan kanker.
Secara ekologis, Solanum kalimantanense dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam pada ketinggian 9 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut.
Namun berdasarkan kajian awal, populasi tanaman ini diduga terbatas sehingga berpotensi masuk kategori rentan atau Vulnerable menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026.
Editor: Andrian