INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menghadapi tantangan besar dalam upaya pengendalian HIV. Bukan karena tingginya penemuan kasus baru, melainkan masih banyaknya Orang dengan HIV (ODHIV) yang berhenti menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Hardino, Selasa (7/7/2026), mengungkapkan hingga tahun 2026 jumlah kumulatif kasus HIV di Kobar mencapai 676 kasus. Dari jumlah itu, baru 295 ODHIV atau sekitar 43,6 persen yang masih aktif menjalani terapi ARV.
Sementara itu, sebanyak 322 orang atau 46,9 persen tercatat sebagai lost to follow up (LFU), yakni pasien yang tidak lagi aktif menjalani pengobatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi keberhasilan program pengendalian HIV.
Di tengah tantangan tersebut, Dinas Kesehatan mencatat sepanjang tahun 2026 telah ditemukan 26 kasus baru HIV. Seluruh pasien yang terdiagnosis langsung mendapatkan terapi ARV agar kondisi kesehatannya tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan sejak dini.
Hardino menegaskan pengobatan yang dijalani secara rutin membuat ODHIV tetap sehat dan produktif. Selain menjaga daya tahan tubuh, terapi ARV juga mampu menurunkan risiko penularan HIV kepada orang lain secara signifikan.
“Sebaliknya, pasien yang menghentikan pengobatan berisiko mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terserang infeksi oportunistik seperti tuberkulosis dan pneumonia. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi AIDS,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga menilai stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan dalam penanggulangan HIV. Tidak sedikit ODHIV yang enggan memeriksakan diri atau melanjutkan terapi karena takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar.
Hardino mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami cara penularan HIV. Virus tersebut tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau menggunakan fasilitas umum bersama, melainkan melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke bayi tanpa pencegahan.
Untuk memperkuat penanganan HIV, Dinas Kesehatan terus meningkatkan layanan skrining, Mobile VCT, penyediaan obat ARV, pelacakan pasien yang putus berobat, integrasi layanan TB-HIV, serta edukasi di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat.
Dinas Kesehatan mengajak seluruh elemen masyarakat mendukung ODHIV agar tetap menjalani pengobatan tanpa rasa takut. Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan penularan HIV sekaligus menghapus stigma terhadap ODHIV di Kotawaringin Barat.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian