INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Potret buram pendidikan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih menyisakan cerita pilu. Anak-anak sekolah di pelosok pedesaan di SDN 1 Desa Riam di Kecamatan Arut Utara, harus menghadapi kenyataan pahit. Sudah bertahun-tahun mereka belajar harus berbagi kelas.
Itulah yang dialami anak-anak di Desa Riam Kecamatan Arut Utara. Anak-anak kelas SDN 1 ini harus belajar tanpa sarana dan prasarana memadai
Sarana dan prasarana (sarpras) sekolah di pelosok desa harus lebih diperhatikan agar pemerataan kualitas pendidikan yang selama ini diharapkan dapat terwujud.
Pasalnya dari sekian banyak persoalan yang dihadapi berkaitan dengan kondisi sarpras, infrastruktur, dan juga jumlah tenaga pengajar dan minimnya jaringan internet.
Padahal setiap pelajar di pelosok pun memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Seperti yang dialami SDN 1 Desa Riam di Kecamatan Arut Utara merupakan salah satu sekolah yang mengalami berbagai permasalahan ini. Para pelajar di sekolah ini harus berbagi kelas karena jumlah ruangan yang terbatas.
Sementara kepala sekolah dan guru juga harus merangkap jabatan baik sebagai pengajar, bendahara maupun tata usaha.
“Jumlah siswa saat ini ada 40 orang untuk 6 kelas dan jumlah ruangan belajar cuma ada 3. Jadi satu ruangan kami disekat untuk jadi 2 ruangan. Sementara untuk jumlah gurunya ada 4, termasuk kepala sekolah. Satu guru bisa rangkap mengajar,” kata Kepala Sekolah SDN 1 Riam, Tupak, Sabtu (30/7/2022).
Ia menerangkan sejatinya sekolah sudah dibekali dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun jumlahnya masih minim sehingga pihaknya belum bisa melakukan penambahan ruangan maupun fasilitas penunjang lainnya.
“Kondisi hujan, halaman dan jalan becek. Anak-anak ke sekolah terpaksa gak pakai sepatu karena lengket. Kami berharap halaman sekolah bisa pasang paving. Selain itu kami juga butuh pagar sekolah supaya anjing liar gak masuk ke halaman sekolah,” jelas dia.
Hal senada disampaikan Mayang Ratnasari. Ia berharap desa Riam bisa teraliri listrik dari negara. Sebab selama ini pihaknya masih mengandalkan tenaga surya yang kerap tidak beroperasi pada saat cuaca tidak mendukung.
“Untuk listrik sementara pakai tenaga surya. Jadi pas mendung atau hujan akinya otomatis gak ngisi dan internet mati. Kita harus turun ke lokasi yang ada sinyal baru bisa kirim laporan,” imbuh May.
May menuturkan, berbagai persoalan ini sudah disampaikan kepada dinas terkait maupun anggota legislatif pada saat melakukan reses ke desa. Dirinya berkeinginan agar sekolah yang ada di pelosok desa bisa diperhatikan seperti sekolah yang ada di daerah perkotaan.
“Saya berharap sekolah kami bisa diperhatikan, saya lihat di TK banyak yang akan masuk SD. Sudah pernah disampaikan ke dinas sama anggota dewan semoga bisa direalisasikan,” tukasnya.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian