INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-67 Kabupaten Kotawaringin Barat tahun ini memiliki pemandangan yang berbeda. Di tengah suasana kota yang memperingati perjalanan sejarah daerah, kembang kuning bermekaran di sejumlah pinggir jalan Pangkalan Bun.
Bunga-bunga berwarna kuning itu tumbuh di antara ruang terbuka dan tepian jalan. Mekarnya bunga seolah menjadi warna alami yang ikut menyambut momentum hari jadi Kabupaten Kotawaringin Barat.
Pemandangan tersebut menarik perhatian warga yang melintas. Warna kuning bunga tampak kontras dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus memberikan kesan sederhana namun mempercantik wajah kota.
Bagi sebagian warga, kemunculan bunga itu terasa seperti kebetulan yang menarik. Tanpa perlu dekorasi tambahan, alam menghadirkan suasananya sendiri ketika masyarakat sedang memperingati hari bersejarah bagi Kabupaten Kotawaringin Barat.
Tono, warga Pangkalan Bun, mengaku baru menyadari keindahan kembang kuning tersebut dalam beberapa hari terakhir. Ia terkejut melihat bunga yang tumbuh di pinggir jalan itu kini tampak bermekaran.
“Saya juga kaget, baru melihat beberapa hari ini. Terlihat cantik sekali Kota Pangkalan Bun, bertepatan dengan HUT Kobar,” kata Tono.
Menurut dia, mekarnya bunga tersebut membuat suasana kota terasa lebih hidup. Pemandangan sederhana di sepanjang jalan itu bahkan menjadi perhatian tersendiri bagi warga yang setiap hari melewati kawasan tersebut.
Momentum HUT ke-67 Kobar pun tidak hanya menjadi waktu untuk mengenang perjalanan pemerintahan dan sejarah daerah. Keindahan alam yang muncul di tengah kota turut menjadi bagian dari suasana perayaan, meski hadir secara alami.
Pangkalan Bun sebagai bagian dari wilayah Kotawaringin Barat memiliki wajah kota yang berdampingan dengan lingkungan alam. Mekarnya kembang kuning di pinggir jalan memperlihatkan bahwa keindahan tersebut dapat muncul dari hal-hal sederhana yang kerap luput dari perhatian.
Di tengah peringatan 67 tahun perjalanan Kotawaringin Barat, kembang kuning itu seakan menjadi ucapan selamat dari alam. Bunga yang tumbuh tanpa seremoni tersebut memberi warna tersendiri bagi kota, sekaligus mengingatkan bahwa sejarah sebuah daerah berjalan berdampingan dengan alam dan kehidupan warganya.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian