INTIMNEWS.COM, KASONGAN – Kepala Palaksana Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Katingan, Markus menyapaikan, berdasarkan data sejak Januari 2023 hingga Oktober 2023 yang tercatat lima kecamatan di wilayah Selatan dengan titik hotspot paling tinggi.
“Kecamatan Katingan Kuala 701 titik, Kecamatan Mendawai 290 titik, Kamipang 184 titik, Tasik Payawan 23 titik, dan Katingan Hilir 187 titik,” sebut Markus, Kamis 5 Oktober 2023.
Menurut Markus peningkatan hotspot ini terjadi di bulan September 2023. Ini disebabkan karena tidak adanya turun hujan. Disisi lain wilayah selatan karena kawasan lahan gambut. Berbeda dengan bagian utara.
“Untuk yang kawasan lahan gambut, pemadamannya memakan waktu cukup lama. Dibandingkan yang tidak kawasan gambut. Oleh sebab itu kami menyarankan, yang perlu menjadi fokus perhatian kita yaitu di lima kecamatan. Seperti Katingan Kuala, Mendawai, Kamipang, Tasik Payawan, dan Katingan Hilir. Karena daerah ini kawasan gambut. Tanpa kita mengkesampingkan daerah kecamatan yang lain,” tuturnya.
Kemudian Markus juga menjelaskan, asap yang menyelimuti wilayah kabupaten Katingan ini disebabkan ada dua faktor. Pertama faktor internal yang disebabkan oleh Karhutla di wilayah Katingan sendiri, juga faktor eksternal. Dimana faktor eksternal ini, kabut asap kiriman daerah lain yang juga terjadi Karhutla.
“Ini karena adanya tiupan angin. Dimana tiupan angin sekarang dari selatan ke utara. Jadi di daerah selatan perbatasan itu larinya tertiup ke wilayah Katingan. Seperti Kabupaten Pulang Pisau, Kotim, dan Kota Palangka Raya. Sehingga asap semakin meningkat ke Kota Kasongan,” jelasnya.
Selanjutnya dia menyampaikan, kondisi saat ini sudah seharusnya masyarakat untuk menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Hingga meminum air putih yang cukup untuk mengatasi dehidrasi akibat cuaca panas.
“Perlu kami sampaikan juga bahwa untuk 7 hari ke depan, tidak ada terjadi hujan. Ini berdasarkan prediksi dari BMKG, terutama di bagian tengah dan selatan. Kalau pun ada hujan, terutama di bagian hulu. Itu intensitasnya sangat rendah. Terakhir untuk ISPU, sangat tidak sehat, dan untuk tujuh hari ke depan, berpotensi akan menjadi sangat berbahaya,” pungkasnya. (**)
Editor: Irga Fachreza