INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan guna memperkuat konektivitas udara, khususnya melalui layanan penerbangan perintis yang menghubungkan wilayah terpencil dan pusat-pusat aktivitas ekonomi daerah.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kalteng, Yulindra Dedy, mengatakan Pemprov Kalteng tidak membatasi bentuk kerja sama dengan maskapai. Menurutnya, skema penerbangan dapat berupa perintis maupun komersial, tergantung kesiapan dan minat masing-masing maskapai.
“Bisa perintis, bisa juga komersial. Tergantung maskapai yang mau bekerja sama dengan pemerintah daerah,” ujar Dedy saat diwawancarai, Jumat, 9 Januari 2026.
Saat ini, Dishub Kalteng mencatat terdapat tiga rute penerbangan perintis yang masih aktif dan seluruhnya dilayani oleh maskapai Susi Air. Ketiga rute tersebut dinilai sangat vital dalam mendukung mobilitas masyarakat di daerah pedalaman.
“Tiga rute perintis itu adalah Kuala Pembuang-Palangka Raya, Muara Teweh-Palangka Raya, dan Puruk Cahu-Palangka Raya. Semuanya dilayani oleh Susi Air,” jelasnya.
Selain rute yang sudah berjalan, Pemprov Kalteng juga tengah mengkaji pembukaan rute baru yang menghubungkan Palangka Raya dengan wilayah pesisir dan barat Kalteng. Salah satu rute yang sedang dalam tahap pembahasan adalah Palangka Raya-Sampit-Pangkalan Bun.
“Rute Palangka Raya-Sampit-Pangkalan Bun masih kita bahas. Kalau nanti sudah ada kepastian, tentu akan kami sampaikan ke publik,” kata Dedy.
Dishub Kalteng berharap penambahan rute penerbangan tersebut dapat meningkatkan aksesibilitas antardaerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan distribusi logistik di wilayah Kalteng.
Sementara itu, terkait konektivitas udara menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Dedy menyampaikan bahwa penerbangan dari Kalteng ke wilayah sekitar IKN sudah berjalan cukup lama.
“Untuk rute ke arah IKN, saat ini penerbangan menuju Balikpapan sudah berjalan empat kali dalam seminggu. Itu sudah berlangsung sekitar dua sampai tiga tahun,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa tingkat keterisian penumpang masih menjadi tantangan utama dalam operasional penerbangan tersebut. Fluktuasi jumlah penumpang kerap memengaruhi jadwal penerbangan.
“Kalau soal jumlah penumpang, nanti koordinasinya dengan Angkasa Pura. Penumpang ini naik turun, kadang di bawah 60 persen,” tuturnya.
Ia menambahkan, apabila tingkat keterisian penumpang tidak mencapai batas minimal, yakni sekitar 50 persen, maka maskapai dapat menunda penerbangan ke hari berikutnya demi efisiensi operasional.
“Kondisi seperti itu yang kadang membuat penerbangan harus ditunda,” tandasnya.
Ke depan, Pemprov Kalteng melalui Dishub berkomitmen terus memperluas jaringan penerbangan perintis dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai maskapai, agar konektivitas udara di Kalteng semakin merata dan berkelanjutan.
Editor: Andrian