INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Masriana, seorang gadis berusia 16 tahun yang tinggal di Jalan Pemuda Selatan RT 16 Kelurahan Kumai Hilir Padat Karya 2, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, terbaring lemah dengan berat badan menyusut. Dia didiagnosa mengidap tumor ganas di mulutnya.
Mirisnya, Masriana tak memiliki biaya untuk mengobati penyakitnya. Sehingga, kondisinya semakin memprihatinkan selama bertahun-tahun, sang Ayah, yang hanya pekerja serabutan tak mampu membiayai pengobatan untuk anaknya itu.
“Jadi awalnya, penyakit ini sejak umur 3 bulan, di bibirnya ada benjolan yang dikira cuma kutil/tanda lahir. Seiring berjalannya waktu, kutil ini membesar,” kata ketua Lentera Kobar Ratna Malasari, saat dikonfirmasi di ruang kerja Wakil ketua ll DPRD Kobar Bambang Suherman.
Masriana ini umurnya baru 16 tahun, mulai sakit sejak berumur 3 bulan. Tahun 2018 silam Lentera pernah menjenguk berdasarkan laporan PSM kumai saat itu, lalu Lentera mencoba mendatangi kerumahnya, namun saat itu ditolak oleh keluarga dengan alasan belum siap.
Lanjut Ratna, baru pada awal Desember 2021 Lentera dapat laporan lagi, tapi dari pihak keluarga menjauh.
“Kita coba pendekatan lagi, Alhamdulillah keluarga bersedia anaknya diobati,” ungkapnya.
Ratna Malasari bercerita asal muasal bisa tersambung dengan Wakil Ketua ll DPRD Kobar Bambang Suherman. “Beberapa hari yang lalu saya curhat di grup WA forum Ormas Kobar soal kondisi pasien tersebut. Lantas pak Bambang langsung meresponnya,” ujarnya.
“Kebetulan Pak Bambang Suherman salah satu anggota di grup WA yang sama,” kata Ratna Malasari, Kamis (9/12/2021).
“Alhamdulillah pak Bambang langsung support kami dan rela merogoh kocek pribadi untuk membayar tunggakan BPJS satu keluarga Masriana ini. Dan akhirnya Masriana bisa berobat menggunakan BPJSnya berkat bantuan Pak Bambang Suherman,” cerita Ratna.
Lanjut Ratna, saat itu pula Bambang Suherman langsung menghubungi Direktur RSUD Sultan Imanuddin dan langsung direspon dan mendapatkan fasilitas.
Sementara orang tuanya hanya orang awam dan kerjanya serabutan. “Namanya orang di kampung yang tidak mengenal medis, mereka malah takut. Dan dikira biaya sendiri sementara mereka tidak punya biaya dan menolak berobat, awalnya begitu,” ucap Ratna kepada awak media.
“Anak ini ke RSUD Sultan Imanuddin baru pertama kali, Masriana ini punya adik yang masih berusia 9 tahun dan sama sekali belum pernah sekolah sama sekali, sementara Masriana sendiri sudah empat tahun ini sudah tidak sekolah lagi,” cetusnya. (Yus)