INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kenaikan harga plastik di pasar ritel tak hanya menjadi beban bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Salah satu contohnya hadir di Pusat Daur Ulang (PDU) Panarung yang dikelola UPTD Pengolahan Sampah Terpadu (PST) Kecamatan Pahandut dan Sabangau, Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya.
Kepala UPTD PST Pahandut dan Sabangau, Robi Sarwo Prasojo, mengatakan pihaknya telah berhasil mengolah limbah plastik sekali pakai menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya paving block.
“Paving block dari plastik ini dipasarkan sekitar Rp3.000 per keping dan sudah mulai dimanfaatkan oleh masyarakat maupun instansi sebagai material ramah lingkungan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Tak hanya itu, PDU Panarung juga mengembangkan berbagai inovasi lain, seperti produksi kompos, budidaya maggot, hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.
Menurut Robi, pihaknya juga tengah mengembangkan produk turunan lain seperti sabun dan eco-enzyme. Namun, produk tersebut masih dalam tahap uji laboratorium sebelum dipasarkan secara luas guna memastikan kualitas dan keamanannya.
Selain memberi dampak lingkungan, operasional PDU Panarung juga membawa manfaat sosial. Pengelolaan yang awalnya berbasis kelompok swadaya kini telah berkembang menjadi koperasi yang mampu memberikan penghasilan bagi masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga bisa mendorong kemandirian ekonomi,” jelasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga plastik disebut belum berdampak signifikan terhadap jumlah nasabah bank sampah. Namun, harga beli limbah plastik di tingkat pengumpul hingga pabrik mengalami kenaikan.
Kondisi ini diharapkan menjadi pemicu bagi masyarakat untuk lebih disiplin dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Kalau sampah sudah dipilah dari sumbernya, proses pengolahan akan jauh lebih efisien,” katanya.
Saat ini, terdapat lebih dari 50 titik bank sampah yang tersebar di Kota Palangka Raya. Masyarakat didorong memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengubah sampah plastik menjadi nilai ekonomi, baik melalui tabungan maupun penukaran kebutuhan pokok.
Melalui inovasi ini, Pemerintah Kota Palangka Raya berharap pengelolaan sampah dapat menjadi solusi berkelanjutan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (**)
Editor: Andrian