website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Bukan Sekadar Gudang Buku, Relima Pulang Pisau Dorong Perpustakaan Jadi Kreativitas Warga

Relima Pulang Pisau, Nopiar Rahman. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PULANG PISAU – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) terus memperkuat upaya peningkatan budaya literasi masyarakat melalui program Relawan Literasi Masyarakat (Relima). Program ini menjadi salah satu strategi untuk menggerakkan pegiat literasi di tingkat akar rumput guna membangun kualitas sumber daya manusia dan memperkuat fondasi peradaban bangsa.

Hingga tahun 2026, Relima telah melibatkan 360 relawan yang aktif di 200 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Pulang Pisau.

Relawan Literasi Masyarakat periode 2025-2026, Nopiar Rahman atau yang akrab disapa Kak Nono, mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menekankan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

“Yang dikejar bukan sekadar program berjalan, melainkan dampaknya. Relima memberikan efek besar karena menggerakkan masyarakat secara langsung,” ujarnya.

Pasang Iklan

Menurut Kak Nono, pemahaman masyarakat terhadap literasi perlu terus diperluas. Literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan mencakup kemampuan berpikir kritis, menilai informasi, dan menciptakan inovasi.

Ia menjelaskan, literasi modern memiliki tiga pilar utama, yakni kemampuan berpikir kritis untuk memahami kondisi sekitar secara logis, kemampuan memilah dan menilai informasi agar terhindar dari hoaks, serta kemampuan mengubah pengetahuan menjadi karya atau solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tidak ada satu pun bangsa yang bermartabat jika tingkat literasinya rendah. Literasi adalah fondasi peradaban manusia,” tegasnya.

Selain mengedukasi masyarakat, Perpusnas juga terus mendorong penguatan ekosistem literasi melalui sejumlah kebijakan strategis. Salah satunya adalah alokasi minimal 10 persen dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pengadaan buku bacaan nonteks.

Menurut Kak Nono, kebijakan tersebut menjadi langkah afirmatif pemerintah dalam memperkaya bahan bacaan di lingkungan sekolah dan meningkatkan minat baca peserta didik.

Di sisi lain, Perpusnas juga terus mengembangkan konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial. Melalui pendekatan ini, perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga menjadi ruang belajar, berkolaborasi, serta mengembangkan kreativitas masyarakat.

Pasang Iklan

“Perpustakaan harus menjadi ruang hidup, tempat bertemunya ide, gagasan, dan kolaborasi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, upaya peningkatan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, sektor swasta, dan masyarakat agar gerakan literasi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Karena itu, Kak Nono berharap isu literasi mendapat perhatian lebih besar dari para pengambil kebijakan. Menurutnya, pembangunan manusia yang berkualitas harus dimulai dari penguatan budaya literasi di berbagai lapisan masyarakat.

“Suara Perpusnas sudah saatnya tidak hanya didengar masyarakat, tetapi juga menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan. Sebab melalui literasi, fondasi pembangunan manusia Indonesia sedang dibangun,” pungkasnya. (**)

Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Ikuti Saluran
error: Content is protected !!