INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mencapai 6.073 kasus yang tercatat di lima puskesmas. Angka tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kepala Dinkes Kobar Hardino mengatakan, perkembangan kasus ISPA terus dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Dari pemantauan tersebut, peningkatan kasus mulai terlihat sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32.
“Kasus tertinggi tercatat pada minggu ke-32, sekitar 515 kasus. Kondisi ini perlu diwaspadai karena terjadi peningkatan secara berturut-turut dalam beberapa minggu terakhir,” kata Hardino, Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes Kobar, PKM Sungai Rangit menjadi fasilitas kesehatan dengan catatan kasus ISPA tertinggi, yakni 1.933 kasus atau 16,43 persen.
Selanjutnya, PKM Madurejo mencatat 1.169 kasus atau 9,94 persen. Kemudian PKM Kumai sebanyak 1.152 kasus atau 9,79 persen, PKM Karang Mulya 914 kasus atau 7,77 persen, dan PKM Mendawai sebanyak 905 kasus atau 7,69 persen.
Jika digabungkan, lima puskesmas tersebut mencatat 6.073 kasus ISPA. Dinkes menilai angka tersebut perlu menjadi perhatian serius karena peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi lingkungan akibat asap Karhutla di sejumlah wilayah Kobar.
Hardino menyebut pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap jumlah kasus, tetapi juga berdasarkan wilayah dan kelompok umur. Kasus pneumonia serta kondisi lingkungan turut menjadi perhatian untuk mengetahui apakah terjadi pola peningkatan penyakit yang berkaitan dengan kualitas udara.
“Kami perlu memperkuat pemantauan mingguan dan melihat hubungan peningkatan kasus dengan kualitas udara maupun kejadian Karhutla. Kalau peningkatan terus berlanjut, perlu dilakukan verifikasi lapangan dan analisis epidemiologi lebih lanjut,” ujarnya.
Dinkes Kobar juga memastikan fasilitas kesehatan tetap disiapkan menghadapi kemungkinan bertambahnya warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Ketersediaan obat, bahan medis habis pakai hingga oksigen menjadi bagian dari kesiapsiagaan pelayanan.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia, ibu hamil serta warga dengan penyakit kronis, diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika asap semakin pekat. Warga juga diimbau menggunakan masker, menutup pintu dan jendela serta segera memeriksakan diri jika mengalami sesak napas, napas cepat, demam tinggi atau kondisi kesehatan memburuk.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian