INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi sorotan Kementerian Pertanian (Kementan) yang tengah mengebut program swasembada protein nasional. Pada Sabtu (22/11), Direktur Pakan Ternak Kementan, Tri Melasari, memimpin kunjungan kerja ke Pangkalan Bun untuk menjajaki kesiapan daerah dalam pengembangan ayam petelur dan pedaging, khususnya di luar Pulau Jawa. Kunjungan itu disambut langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kobar, Rody Iskandar, yang menegaskan komitmen Pemkab dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tri Melasari mengungkapkan bahwa secara nasional Indonesia memiliki surplus protein hewani, namun sejumlah provinsi di luar Jawa masih mengalami kekurangan. Karena itu, Kobar dinilai sebagai wilayah yang memiliki potensi besar menjadi sentra produksi baru. Program ini juga menjadi bagian dari Mandiri Benih dan Genetik (MBG) yang digagas Kementan untuk memperkuat kemandirian pangan di seluruh wilayah.
Dalam pertemuan tersebut, Kementan memaparkan langkah awal berupa survei lokasi pengembangan ayam petelur dan pedaging. Survei ini akan mengukur kelayakan lahan, kesiapan sumber daya daerah, hingga dukungan lintas pihak, baik dari Pemkab, Pemprov, maupun mitra BUMN yang akan terlibat dalam implementasi program. Koordinasi antarlembaga menjadi prasyarat penting sebelum program dijalankan.
Sekda Kobar, Rody Iskandar, menyatakan optimismenya terhadap rencana besar tersebut. Ia menilai program swasembada protein bukan hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membawa dampak nyata bagi peningkatan gizi masyarakat.
“Kobar siap mendukung penuh, baik dari sisi koordinasi maupun kesiapan lokasi. Ini peluang besar dan kami ingin memastikan pelaksanaannya berjalan optimal,” ujar Rody.
Sementara itu, Tri Melasari menegaskan bahwa fokus pengembangan di luar Jawa sangat penting untuk menutup kesenjangan pasokan protein antarwilayah. Ia mendorong daerah yang masuk dalam program, termasuk Kobar, untuk segera menyiapkan roadmap pelaksanaan agar tercipta ekosistem peternakan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Tri menambahkan bahwa hasil survei kelayakan di Kobar akan dilaporkan secara menyeluruh kepada pimpinan kabupaten, provinsi, dan pusat sebagai dasar pengambilan kebijakan. Ia menekankan bahwa respons cepat dan koordinasi yang baik dari pemerintah daerah menjadi penentu keberhasilan program nasional ini.
Kunjungan strategis ini diharapkan menjadi pijakan awal pembentukan kawasan peternakan modern di Kotawaringin Barat, yang pada akhirnya berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani Indonesia.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian