INTIMNEWS.COM KASONGAN – Pemerintah Kabupaten Katingan terus menata sektor pariwisata daerah dengan pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Fokus utama saat ini adalah pengembangan wisata alam yang tersebar di sejumlah desa, yang diyakini memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Kabupaten Katingan kepada wisatawan. Langkah ini dilakukan secara bertahap, mulai dari pendataan hingga pengelolaan fasilitas, agar hasilnya bisa dirasakan masyarakat setempat.
Wahyu Murtini, Kabid Pariwisata sekaligus Plt Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporbudpora) Katingan, menegaskan bahwa pendataan objek wisata menjadi tahap awal pengembangan. “Pendataan kami lakukan dari tingkat kecamatan hingga desa. Fokusnya mencakup sungai, danau, dan ruang terbuka hijau yang memiliki potensi wisata,” ujar Wahyu, Rabu (17/9/2025). Menurutnya, pemetaan ini penting agar setiap pengembangan dapat tepat sasaran dan memberi manfaat bagi masyarakat lokal.
Salah satu destinasi unggulan Katingan adalah Taman Nasional Bukit Baka dan Bukit Raya (BBBR) yang menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan ini bukan hanya menarik bagi peneliti dan pecinta alam, tetapi juga menjadi lokasi potensial untuk wisata edukasi dan konservasi. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini dapat menjadi ikon wisata alam di Kalimantan Tengah sekaligus sumber PAD bagi daerah.
Selain BBBR, Taman Nasional Sebangau (TNS) juga menjadi sorotan. Kawasan ini terkenal dengan ekosistem rawa gambut yang khas, sekaligus habitat berbagai flora dan fauna endemik. “Sebangau memiliki keunikan tersendiri yang jarang dimiliki daerah lain. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang pentingnya pelestarian ekosistem,” kata Wahyu.
Di pusat Kabupaten, Kota Kasongan, terdapat Bukit Batu, yang dikenal sebagai tempat pertapaan Pahlawan Nasional Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut. Lokasi ini menjadi titik penting untuk wisata sejarah dan edukasi, menggabungkan cerita kepahlawanan dengan pengalaman alam yang menenangkan. Bukit Batu diharapkan dapat menjadi alternatif wisata yang menggabungkan nilai edukasi, sejarah, dan budaya.
Selain itu, wisata alam Punggu Alas di Desa Keruing, Kecamatan Kamipang, menawarkan panorama hutan tropis yang asri. Lokasi ini mulai dikembangkan menjadi destinasi trekking dan wisata alam keluarga. Keindahan hutan dan sungai di sekitar Punggu Alas menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman alam jauh dari keramaian perkotaan.
Pengembangan wisata budaya juga mendapat perhatian khusus. Desa Betung, Kecamatan Katingan Hilir, menjadi pusat pengenalan budaya Dayak. Di desa ini, wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan seni tradisional, belajar membuat kerajinan khas, serta merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Sinergi antara wisata alam dan budaya diharapkan memperkuat identitas Katingan sebagai destinasi wisata terpadu.
Wahyu menekankan, pengembangan wisata tidak bisa berdiri sendiri. Sektor transportasi, ekonomi kreatif, seni, dan budaya harus terlibat aktif. “Setiap destinasi harus melibatkan masyarakat, agar manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh warga sekitar, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal,” jelasnya.
Selain memberikan kontribusi ekonomi, pengelolaan wisata ini juga bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian alam. Dengan pendekatan partisipatif, warga desa diharapkan menjadi pengelola sekaligus pelindung alam dan budaya. Model ini diyakini akan menciptakan wisata yang autentik dan lestari.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Katingan menargetkan wisata alam dan budaya di daerahnya bisa menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional. Selain meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pengembangan ini diharapkan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta meneguhkan Katingan sebagai daerah yang kaya alam dan budaya.