PANGKALAN BUN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, masih menjadi ancaman serius di tengah musim kemarau. Bupati Kobar Hj Nurhidayah mengingatkan masyarakat agar tidak lengah karena banyak kejadian karhutla dipicu oleh aktivitas manusia.
Nurhidayah menyebut sekitar 90 persen kejadian karhutla di Kobar berkaitan dengan ulah manusia. Mulai dari membakar sampah, membakar lahan, hingga membuang puntung rokok yang belum benar-benar padam di kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
“Karhutla ini kebanyakan karena ulah oknum manusia. Mulai dari membakar sampah, membakar lahan, sampai puntung rokok yang belum sepenuhnya dimatikan kemudian dibuang di lahan kering,” tegas Nurhidayah.
Menurutnya, kondisi kemarau membuat lahan semakin mudah terbakar. Bara kecil yang dianggap sepele dapat dengan cepat berubah menjadi kobaran api dan merambat luas ketika bertemu rumput, semak, maupun vegetasi yang mengering.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama ketika berada di sekitar lahan, perkebunan, maupun kawasan yang kondisi tanah dan vegetasinya sedang kering.
“Jangan main-main dengan karhutla,” ujar Nurhidayah, Jumat (11/9/2026).
Bupati menegaskan, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan kualitas udara, menghambat aktivitas warga, hingga mengganggu jarak pandang.
Di balik upaya pemadaman, terdapat para pejuang karhutla yang setiap hari mempertaruhkan tenaga dan keselamatan di lapangan. Mereka harus berhadapan dengan panas, asap, serta kondisi medan yang tidak mudah untuk memastikan api tidak semakin meluas.
Nurhidayah pun menyoroti risiko yang harus dihadapi para petugas dan relawan. Bahkan, dalam perjuangan menangani karhutla di Kobar, sudah ada pejuang karhutla yang menghembuskan napas terakhirnya.
“Sudah ada pejuang karhutla yang menghembuskan napasnya demi menjaga lingkungan,” kata Nurhidayah.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat agar tidak lagi menganggap sepele persoalan api. Jangan sampai kelalaian seseorang membuat petugas dan relawan kembali mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.
Nurhidayah mengajak masyarakat bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, serta tidak membuang puntung rokok di lahan kering. Jika menemukan titik api, warga diminta segera melapor agar dapat ditangani sebelum membesar.
“Jangan sampai ada lagi pejuang yang gugur hanya karena kelalaian kita,” pesannya.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian