INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustiar Sabran, turun langsung mendampingi massa Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) saat menyampaikan aspirasi di depan Istana Isen Mulang atau Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Kamis, 30 Juli 2026.
Kehadiran orang nomor satu di Kalteng itu untuk memastikan aksi berlangsung aman, tertib, sekaligus mendorong PT PLN (Persero) memberikan kepastian kepada masyarakat terkait penanganan krisis listrik yang terjadi.
Agustiar mengatakan, pemerintah provinsi memahami keresahan masyarakat karena dampak pemadaman listrik juga dirasakan oleh pemerintah.
“Kami juga merasakan. Kalian sakit, saya juga sakit. Sakitnya masyarakat adalah sakitnya gubernur. Karena itu kami memanggil pihak PLN agar semuanya terbuka. Situasi sekarang memang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Ia menjelaskan, Rumah Jabatan Gubernur terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Menurutnya, penyampaian pendapat di lokasi tersebut juga lebih aman sehingga dialog antara masyarakat dan pihak PLN dapat berlangsung tanpa menimbulkan persoalan baru.
“Ini rumah kalian juga. Gubernur hanya menumpang lima tahun. Silakan sampaikan apa yang ingin disampaikan di sini,” ujarnya.
Agustiar juga meminta PLN memberikan penjelasan yang terbuka mengenai kondisi kelistrikan, termasuk kepastian apakah pemadaman masih akan berlanjut setelah 5 Agustus 2026. Menurutnya, informasi yang jelas akan membantu masyarakat dan pelaku usaha mengambil langkah antisipasi.
“Tolong sampaikan, tanggal 5 nanti sudah benar-benar selesai atau belum. Biar masyarakat tahu kejelasannya dan bisa mengantisipasi dengan baik,” ucapnya.
Ia menambahkan, dampak pemadaman tidak hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga mengganggu layanan publik, terutama rumah sakit yang bergantung pada pasokan listrik untuk mengoperasikan berbagai peralatan medis.
Menutup penyampaiannya, Agustiar mengajak massa tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan mengedepankan dialog.
“Silakan sampaikan pendapat dengan cara yang membangun. Yang penting tegas, tetapi tetap sesuai peradaban dan tidak saling menyudutkan. Hidup rakyat,” tutupnya, yang disambut teriakan “Hidup!” dari massa aksi.