INTIMNEWS.COM, Muara Teweh — Anggota DPRD Barito Utara dari Fraksi PKB, H. Nurul Anwar, menegaskan bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadist (MTQH) ke-52 tidak diperlakukan sebagai kegiatan seremonial tahunan. Ia menilai ajang ini memiliki dampak langsung dalam proses pembinaan akhlak generasi muda dan pembentukan karakter masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Pernyataan ini ia sampaikan saat menghadiri Pawai Ta’aruf MTQH yang dilepas langsung oleh Sekretaris Daerah Barito Utara, Muhlis, di pusat Kota Muara Teweh, Senin (20/8).
Menurut Nurul Anwar, MTQH selama ini sering dipersepsikan sekadar sebagai agenda rutin keagamaan. Padahal, di balik itu terdapat aktivitas pembinaan berkelanjutan, mulai dari penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an hingga pemahaman hadis yang menjadi fondasi moral bagi generasi muda. Ia menilai pembinaan itu hanya dapat berjalan optimal apabila didukung penuh oleh pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.
“Ini bukan agenda rutin yang dilaksanakan hanya karena tuntutan kalender. MTQH adalah bagian dari pembinaan karakter,” kata Nurul Anwar. Ia menekankan bahwa setiap kegiatan keagamaan seharusnya diarahkan untuk memperkuat nilai moral, bukan sekadar memunculkan juara lomba. Menurutnya, pembelajaran Al-Qur’an dan hadis merupakan proses jangka panjang yang memerlukan strategi, fasilitas, dan dukungan kebijakan.
Nurul menambahkan bahwa komitmen DPRD, khususnya Fraksi PKB, dalam penguatan pendidikan Islam tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan formal. Ia menyebut penguatan kurikulum di sekolah dan dukungan terhadap lembaga pendidikan nonformal, seperti madrasah diniyah dan rumah tahfiz, perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. “Fraksi PKB akan terus mendorong agar pendidikan Islam diperkuat, tidak hanya di sekolah negeri, tetapi juga pada lembaga pendidikan berbasis masyarakat,” ujarnya.
Pawai Ta’aruf yang menjadi pembuka MTQH ke-52 dinilainya sebagai ruang publik yang mampu memperlihatkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan. Ribuan peserta dari berbagai kecamatan turut serta menampilkan identitas kafilah masing-masing. Bagi Nurul, momentum tersebut menggambarkan semangat kebersamaan yang harus terus dijaga di tengah dinamika sosial. “Ini wadah memperkuat ukhuwah islamiah. Semua masyarakat terlibat, dan itu menunjukkan bahwa MTQH tetap relevan,” katanya.
Meski demikian, Nurul menilai terdapat tantangan yang tidak kecil dalam mempertahankan kualitas pembinaan. Salah satu yang ia soroti adalah minimnya fasilitas pendukung bagi para pembina dan peserta didik Al-Qur’an di tingkat desa. Ia menegaskan perlunya peningkatan anggaran agar pelatihan, pembinaan, dan pendampingan bisa berjalan secara terstruktur. “Kalau kegiatan ini ingin berdampak besar, pembinaannya harus dilakukan serius dan tidak hanya pada saat menjelang MTQH,” ucapnya.
Selain fasilitas, Nurul menilai pola koordinasi lintas sektor juga perlu dibenahi. Menurutnya, kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan dinas terkait harus diperkuat agar program pembinaan keagamaan tidak berjalan parsial. Ia menegaskan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari arus informasi digital hingga perubahan pola interaksi sosial, sehingga pendidikan akhlak harus diperkuat melalui program-program yang terintegrasi.
Nurul juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat luas dalam mendukung keberlanjutan MTQH. Ia berharap orang tua lebih aktif mengarahkan anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan pembinaan Al-Qur’an sejak usia dini. “Pembinaan akhlak tidak terjadi dalam satu malam. Harus ada kesadaran kolektif bahwa pendidikan agama adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah,” katanya. Ia menyebut partisipasi masyarakat menjadi kunci agar generasi Qur’ani benar-benar terbentuk secara merata.
Dari sisi kebijakan, ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat alokasi anggaran pembangunan sarana pendidikan keagamaan, mulai dari ruang belajar, perpustakaan, hingga alat peraga pembelajaran. Selain itu, ia berharap pelaksanaan MTQH ke depan tidak hanya menonjolkan acara seremonial, tetapi juga forum diskusi, workshop pembinaan, dan pelatihan untuk para pembina. “MTQH bukan sekadar lomba membaca ayat. Ini tentang membangun akhlak, menyiapkan generasi yang memahami nilai-nilai Islam secara utuh,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Nurul Anwar berharap MTQH di Barito Utara semakin berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa MTQH memiliki posisi strategis dalam penguatan karakter bangsa dan menjadi salah satu cara menjaga tradisi keagamaan di tengah perubahan zaman. “Kalau pembinaan dilakukan konsisten, hasilnya bukan hanya juara, tetapi masyarakat yang lebih berakhlak dan memahami nilai-nilai agamanya,” ujar Nurul.(Shp/MaulanaKawit)