INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat terjadinya inflasi pada Desember 2025 baik secara bulanan maupun tahunan. Berdasarkan rilis resmi BPS, inflasi year-on-year (y-on-y) Kalteng tercatat sebesar 3,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,98.
Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, menyampaikan capaian tersebut saat konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BPS Kalteng beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan bahwa inflasi tertinggi secara tahunan terjadi di Kota Palangka Raya, yakni sebesar 3,31 persen dengan IHK 109,60.
Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Sampit dengan angka 2,66 persen dan IHK sebesar 108,67. Meski berbeda tingkatannya, seluruh kabupaten dan kota pemantauan IHK di Kalteng mengalami inflasi pada Desember 2025.
Agnes menjelaskan, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 12,60 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,09 persen.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 3,29 persen, kelompok pendidikan 2,35 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 1,84 persen. Kelompok transportasi dan kesehatan masing-masing mengalami inflasi 1,78 persen dan 1,24 persen.
Di sisi lain, terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan indeks harga. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,10 persen, sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 0,09 persen.
Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), Kalteng mencatat inflasi sebesar 1,04 persen pada Desember 2025. IHK mengalami kenaikan dari 108,85 pada November 2025 menjadi 109,98 pada Desember 2025.
Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,91 persen. Sejumlah komoditas pangan tercatat memberi tekanan signifikan terhadap inflasi.
“Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, beras, dan ikan gabus,” ujar Agnes.
Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi year-to-date (y-to-d) Kalteng hingga Desember 2025 sebesar 3,13 persen. Angka ini sejalan dengan inflasi tahunan yang terjadi sepanjang 2025.
Agnes menambahkan, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 1,59 persen. Komoditas seperti emas perhiasan, beras, cabai rawit, rokok kretek mesin, dan bawang merah memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi y-on-y.
BPS mencatat beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan harga pada Desember 2025, di antaranya meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru, pelaksanaan Haul Guru Sekumpul yang berdampak pada pasokan barang dari Kalimantan Selatan (Kalsel), serta tingginya curah hujan yang memengaruhi hasil pertanian dan perikanan.
Ke depan, kata Agnes, BPS Kalteng akan terus melakukan pemantauan harga dan menyajikan data statistik yang akurat serta tepat waktu. Data tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan pengendalian inflasi di Kalteng.
“BPS akan terus menyajikan data statistik yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar perumusan kebijakan,” pungkasnya.
Editor: Andrian