INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) bukan lagi sekadar persoalan asap. Api kini mengancam kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi orangutan dan memiliki nilai penting hingga tingkat internasional.
Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Hj. Hatnati, menyatakan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia meminta pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap kebakaran di kawasan TNTP agar api tidak semakin mengancam habitat satwa liar.
“Saya sangat prihatin sekali dengan adanya kebakaran Tanjung Puting. Kita berharap pemerintah daerah lebih memberikan perhatian khusus,” kata Hatnati.
Menurut Hatnati, TNTP bukan kawasan biasa. Taman nasional tersebut memiliki reputasi internasional sebagai salah satu kawasan penting bagi pelestarian orangutan. Karena itu, setiap kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut harus menjadi perhatian bersama.
Ia menilai ancaman terhadap TNTP tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas pemadam. Pencegahan dari masyarakat menjadi kunci, terutama ketika kondisi alam sedang sangat rentan akibat kemarau panjang.
Hatnati secara khusus meminta masyarakat di wilayah Kumai untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Imbauan serupa ia tujukan kepada seluruh masyarakat Kobar agar tidak mengambil risiko dengan membuka atau membersihkan lahan menggunakan api.
“Terutama masyarakat kita dari Kumai khususnya, dan pada umumnya Kotawaringin Barat, supaya bisa menahan diri untuk tidak membakar,” ujarnya.
Ia mengingatkan, kebakaran besar kerap berawal dari api kecil yang kemudian sulit dikendalikan ketika kondisi lahan kering. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh pembakaran dalam skala kecil sekalipun.
“Kita tahu sekarang memang rentan karena musim kemarau. Ini bukan sehari dua hari. Jangka waktunya mungkin agak panjang, bahkan lebih panjang daripada tahun-tahun yang lalu,” kata Hatnati, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, kondisi kemarau panjang membuat potensi kebakaran semakin besar. Vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar alami bagi api, sementara angin dan kondisi lahan dapat mempercepat penjalaran kebakaran.
Hatnati berharap pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait memperketat pengawasan dan memperkuat pencegahan di sekitar kawasan TNTP. Ia juga mengajak masyarakat ikut menjaga kawasan konservasi tersebut agar kebakaran tidak berubah menjadi ancaman yang lebih besar bagi lingkungan dan satwa dilindungi.
“TNTP ini bukan hanya milik kita. Ini kawasan yang dikenal dunia. Jadi mari sama-sama kita jaga, jangan sampai kebakaran mengancam habitat orangutan dan merusak kawasan yang sangat penting ini,” tegasnya.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian