INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, semakin mengkhawatirkan. Hingga 22 Agustus 2026, tercatat 975,748 hektare lahan terbakar, dengan 729 titik panas (hotspot) dan 216 kejadian karhutla sepanjang 2026.
Data tersebut berasal dari SiPongi Kementerian Kehutanan dan rekapitulasi kejadian bencana BPBD Kobar yang diperbarui pada 22 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Lonjakan hotspot paling mencolok terjadi pada Juli dan Agustus, dengan total 602 titik panas terdeteksi dalam dua bulan tersebut.
Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, mencapai 437 titik. Disusul Kumai sebanyak 147 titik dan Arut Utara 77 titik. Tingginya jumlah hotspot menunjukkan ancaman karhutla masih tersebar di sejumlah wilayah Kobar.
Dari sisi kejadian, Arut Selatan juga menjadi wilayah dengan catatan tertinggi, yakni 118 kejadian karhutla. Kumai menyusul dengan 67 kejadian, kemudian Pangkalan Banteng 12 kejadian, Kotawaringin Lama 8 kejadian dan Pangkalan Lada 7 kejadian.
Sementara berdasarkan luasan, Kecamatan Kumai menjadi wilayah paling terdampak dengan 592,41 hektare lahan terbakar. Arut Selatan mencapai 286,483 hektare, Pangkalan Lada 110,24 hektare, Arut Utara 30,5 hektare, Pangkalan Banteng 25,75 hektare dan Kotawaringin Lama 23 hektare.
Di tengah tingginya angka tersebut, petugas BPBD Kobar masih berjibaku melakukan pemadaman. Saat ini terdapat tujuh lokasi karhutla yang masih dalam penanganan, termasuk di kawasan wisata Pantai Kubu dan Kraya, Kecamatan Kumai.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel mengatakan proses pemadaman menghadapi kendala serius karena sejumlah titik berada di kawasan rawa kering. Kondisi medan membuat petugas kesulitan membawa personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran.
“Rata-rata kawasan yang terbakar adalah kawasan yang berada di daerah rawa kering yang memang kondisinya rawan kebakaran,” kata Samuel, Senin (24/8/2026).
BPBD Kobar telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Tengah untuk mempercepat dukungan helikopter water bombing. Menurut Samuel, informasi dari Komandan Lanud Iskandar menyebut helikopter tersebut diupayakan hadir di Kobar dalam pekan ini.
“Kami berharap helikopter water bombing segera,” ujarnya. Selain medan yang sulit, asap pekat juga menghambat operasi. Pada pagi hari, jarak pandang disebut hanya sekitar 500 meter. BPBD berharap dukungan pemadaman udara segera terealisasi agar tujuh lokasi yang masih terbakar dapat dikendalikan dan karhutla tidak semakin meluas.