website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Panggung Konser Amal Jadi Sorotan, R.A.S.Y.A Band Gandeng Pengacara

Keterangan foto: Personel R.A.S.Y.A Band bersama kuasa hukum usai menempuh pendampingan hukum terkait polemik aksi di konser amal karhutla di Palangka Raya.

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Polemik aksi seorang pria yang menampilkan pakaian dalam wanita saat konser amal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) memasuki babak baru.

Vokalis sekaligus pencipta lagu R.A.S.Y.A Band disebut telah didampingi kuasa hukum, Jefriko Seran, S.H., M.H. Pendampingan hukum tersebut menjadi langkah lanjutan setelah insiden yang terjadi ketika R.A.S.Y.A Band sedang tampil di atas panggung.

Informasi itu disampaikan melalui unggahan yang menunjukkan personel R.A.S.Y.A Band bersama kuasa hukum. Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa vokalis dan pencipta lagu R.A.S.Y.A Band kini telah mendapatkan pendampingan hukum.

Langkah tersebut membuat persoalan yang semula menjadi sorotan di ruang publik kini tidak hanya berkaitan dengan etika pertunjukan, tetapi juga telah mendapat pendampingan dari pihak hukum.

Pasang Iklan

Hal tersebut juga mendapat kecaman dari Musisi senior Palangka Raya, Muchlis Safari. Menurutnya, panggung musik bukan ruang bebas untuk melakukan tindakan yang dapat mempermalukan atau merendahkan orang lain.

“Menurut saya tindakan seperti itu sangat tidak pantas dan saya mengutuk keras. Apalagi ini kegiatan amal untuk membantu masyarakat yang terdampak karhutla. Panggung seharusnya menjadi tempat untuk berkarya, menghibur dan menyampaikan pesan positif, bukan tempat melakukan tindakan yang merendahkan atau mempermalukan orang lain,” kata Muchlis. Senin 21 September 2026.

img 20260921 wa0006
Musisi senior Palangka Raya, Muchlis Safari

Muchlis menilai alasan gimmick tidak cukup untuk membenarkan tindakan yang dilakukan tanpa komunikasi dan persetujuan dengan pihak yang berada di atas panggung.

Menurut dia, kreativitas dalam pertunjukan tetap memiliki batas. Gimmick seharusnya dirancang untuk menghibur, bukan menjadikan orang lain sebagai objek tindakan yang berpotensi membuatnya merasa dipermalukan.

“Kalau memang itu dianggap gimmick, tetap harus melihat situasi dan kondisi. Gimmick dalam pertunjukan seharusnya sudah dikomunikasikan dan disepakati bersama. Jangan sampai sesuatu yang dianggap lucu oleh seseorang justru membuat orang lain merasa dilecehkan atau direndahkan,” ujarnya.

Aksi tersebut, kata Muchlis, menjadi semakin sensitif karena dilakukan ketika vokalis perempuan R.A.S.Y.A Band sedang membawakan lagu.

Pasang Iklan

Ia meminta seluruh pelaku seni dan penyelenggara kegiatan tidak mengabaikan aspek keamanan, kenyamanan serta penghormatan terhadap pengisi acara.

“Kita sebagai sesama musisi harus punya rasa saling menghargai. Perempuan yang tampil di atas panggung juga punya hak untuk merasa aman dan dihormati. Jangan karena ingin membuat suasana ramai, kemudian mengabaikan perasaan orang lain,” katanya.

Sementara itu, informasi mengenai pendampingan hukum terhadap R.A.S.Y.A Band terlihat dalam dokumentasi yang beredar. Dalam foto tersebut, vokalis dan pencipta lagu R.A.S.Y.A Band bersama sejumlah personel tampak didampingi Jefriko Seran, S.H., M.H.

Dokumentasi itu memperlihatkan mereka membawa dokumen bersama kuasa hukum. Keterangan pada unggahan menyebutkan bahwa R.A.S.Y.A Band telah didampingi kuasa hukum.

Pendampingan ini menunjukkan pihak band mengambil langkah serius dalam menyikapi insiden tersebut.

Namun, mengenai bentuk laporan, pihak yang dilaporkan, pasal yang digunakan maupun tahapan proses hukum, informasi tersebut belum disebutkan secara rinci dalam data yang diterima.

Muchlis juga mengingatkan bahwa konser tersebut digelar untuk tujuan sosial, yakni membantu masyarakat yang terdampak karhutla.

Menurutnya, tujuan kemanusiaan itu semestinya menjadi pesan utama kegiatan, bukan justru tenggelam akibat kontroversi di atas panggung.

“Jangan sampai niat baik dari sebuah kegiatan amal justru ternoda oleh tindakan yang tidak menghargai orang lain,” katanya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam kegiatan musik di Palangka Raya maupun Kalteng.

Bagi Muchlis, panggung merupakan ruang ekspresi yang harus tetap menjunjung etika. Kebebasan berkesenian, kata dia, tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat terhadap sesama pengisi acara.

“Mari kita sama-sama menjaga etika, menghormati sesama musisi dan menjadikan panggung sebagai ruang berkarya yang positif,” pungkasnya.

(Maulana Kawit)

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Pasang Iklan Ikuti Saluran
error: Content is protected !!