website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Kualitas Udara Kobar Memburuk, Kesehatan Warga Terancam

Karhutla terjadi di Kalimantan Tengah. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus memburuk di tengah masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini mulai menjadi ancaman bagi kesehatan warga setelah hasil pemantauan menunjukkan udara Kobar masuk kategori tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan BMKG Kotawaringin Barat pada Senin (31/8/2026) pukul 09.05 WIB, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 77,9 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.

Kondisi lebih mengkhawatirkan terjadi beberapa jam sebelumnya. Pada pukul 07.05 WIB, konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 300,3 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori berbahaya. Setelah itu, konsentrasi partikulat kembali menurun, tetapi kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat.

Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Ayu Istiqomah mengatakan data tersebut berdasarkan hasil pemantauan indeks kualitas udara untuk wilayah Kotawaringin Barat dan sekitarnya.

Pasang Iklan

“Kondisi kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu sehingga masyarakat diminta terus memantau perkembangannya,” ujarnya.

Memburuknya kualitas udara terjadi ketika karhutla masih melanda sejumlah wilayah Kobar. Satgas Penanganan Karhutla Kobar mencatat 100 titik panas pada 29 Agustus 2026. Arut Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 73 titik, disusul Kumai 13 titik dan Kotawaringin Lama 10 titik.

Sejumlah lokasi kebakaran berada di Arut Selatan, antara lain Raja Seberang, Madurejo, Mendawai, Baru, Natai Raya, Pasir Panjang, dan Sungai Kapitan. Beberapa lokasi masih memerlukan penanganan karena api belum sepenuhnya padam.

Dampak terhadap kesehatan warga juga menjadi perhatian. Dinas Kesehatan Kobar mencatat 12.275 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam 33 periode pengamatan. Jumlah kasus tertinggi mencapai 515 kasus pada periode ke-32, sebelum turun menjadi 465 kasus pada periode ke-33.

Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardiono mengatakan perkembangan kasus ISPA menjadi perhatian, terutama ketika aktivitas karhutla meningkat. Meski demikian, ia menegaskan peningkatan kasus ISPA tidak serta-merta dapat dikaitkan langsung dengan karhutla karena penyakit tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor.

Namun, paparan asap dan memburuknya kualitas udara tetap menjadi faktor lingkungan yang harus diwaspadai.

Pasang Iklan

“Kondisi tersebut terutama berisiko bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit kronis,” katanya.

Dinkes Kobar mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga juga diminta menggunakan masker yang sesuai saat berada di wilayah yang terpapar asap serta segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang semakin berat.

Di tengah karhutla yang belum sepenuhnya terkendali, memburuknya kualitas udara menjadi ancaman yang perlu mendapat perhatian serius. Pemerintah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan agar paparan asap tidak menimbulkan dampak kesehatan yang lebih luas, sementara perkembangan kualitas udara dan kasus ISPA terus dipantau.

Penulis: Yusro
Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Pasang Iklan Ikuti Saluran
error: Content is protected !!