INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus meningkat seiring menguatnya musim kemarau. Hingga 29 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar mencatat 120 titik panas (hotspot) yang tersebar di enam kecamatan.
Dari seluruh wilayah yang dipantau, Kecamatan Arut Selatan menjadi daerah paling rawan. BPBD mencatat sebanyak 46 titik panas di wilayah tersebut, tertinggi di Kobar. Arut Selatan juga menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni mencapai 57 kasus.
Sementara itu, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan dampak kebakaran paling luas. Sepanjang Januari hingga 29 Juli 2026, luas lahan yang terbakar di kecamatan tersebut mencapai 75,05 hektare atau menjadi yang tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Secara keseluruhan, BPBD Kobar mencatat 102 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 194,568 hektare. Peningkatan kejadian pada Juli menjadi perhatian serius karena bertepatan dengan kondisi cuaca yang semakin kering.
Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Barat melalui Plt Bidang Kedaruratan dan Logistik, Adnan Santana, mengatakan seluruh pihak kini meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran di tengah musim kemarau.
“Data ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih waspada. Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melapor apabila menemukan titik api maupun kepulan asap,” ujar Adnan, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurutnya, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan relawan terus melakukan patroli terpadu serta pemantauan titik panas berdasarkan data satelit. Langkah tersebut dilakukan agar setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.
Adnan menegaskan, pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menekan angka karhutla. Semakin cepat kebakaran diketahui, semakin besar peluang api dipadamkan sebelum meluas dan menimbulkan dampak lebih besar, termasuk kabut asap.
BPBD Kobar juga mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan selama musim kemarau dengan tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan. Partisipasi masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mencegah bertambahnya titik panas dan kejadian karhutla di Kotawaringin Barat.
Dengan meningkatnya titik panas dan luas lahan terbakar, kewaspadaan seluruh pihak perlu diperkuat. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas.
Editor: Andrian